Opini  

Ancaman Chilean Paradox di Indonesia dan Nasib Kelas Menengah Bawah

Jakarta, suaraham.com -7 September 2025 – Keadilan ekonomi kembali menjadi perbincangan serius di tengah dinamika sosial yang berkembang. Ekonom Universitas Indonesia, Muhamad Chatib Basri, dalam tulisannya di Kompas (7/9), mengingatkan ancaman Chilean Paradox yang bisa menimpa Indonesia jika pemerintah tidak segera memberi perhatian lebih pada kelompok kelas menengah bawah.

Menurut Chatib, pengalaman Chile pada 2019 patut menjadi cermin. Negara tersebut berhasil menekan angka kemiskinan secara signifikan dan mencatat pertumbuhan ekonomi tinggi, namun di sisi lain jutaan rakyat turun ke jalan menuntut keadilan. Kekecewaan muncul karena kelas menengah merasa tertinggal dan tidak menikmati hasil pembangunan sebagaimana yang tergambar dalam angka-angka makroekonomi.

“Ada yang terputus di sana. Antara statistik dan rasa. Antara grafik makro dan kenyataan di dapur,” tulis Chatib.

Kerentanan Kelas Menengah Indonesia

Chatib merujuk studi Dartanto dan Can (2023) yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode 2019–2022 lebih banyak dinikmati kelompok kaya, sementara kelas menengah hampir tak tersentuh. Fenomena ini, menurutnya, adalah sinyal awal Chilean Paradox.

Kelas menengah bawah—seperti pengemudi ojek daring, pedagang kaki lima, tukang jahit rumahan, hingga pekerja lepas—sering berada di wilayah abu-abu. Mereka tidak termasuk kategori miskin sehingga sulit mengakses bantuan sosial, namun juga tidak cukup mapan untuk mandiri dengan stabilitas ekonomi.

“Mereka bekerja, tetapi rapuh. Mereka tak menganggur, tetapi tak cukup terlindungi,” ujarnya.

Langkah yang Perlu Ditempuh

Chatib menawarkan empat langkah kebijakan untuk memperkuat fondasi ekonomi kelompok menengah bawah:

1. Perluasan Perlindungan Sosial – Seperti subsidi listrik rumah tangga kecil, BLT, dan PKH dengan penargetan yang lebih tepat sasaran melalui teknologi digital.

2. Penguatan Daya Beli – Kebijakan fiskal diarahkan untuk meningkatkan konsumsi masyarakat berpenghasilan rendah-menengah yang memiliki kecenderungan belanja tinggi.

3. Penciptaan Lapangan Kerja Layak – Dukungan pada sektor formal, manufaktur, dan pariwisata agar mampu membuka “pekerjaan kelas menengah” dengan upah layak.

4. Deregulasi Ekonomi – Mengurangi biaya tinggi yang membebani industri manufaktur, sehingga investasi bisa menciptakan lebih banyak lapangan kerja berkualitas.

Alarm dari Rakyat

Chatib menekankan bahwa kerusuhan sosial, seperti yang pernah terjadi di Santiago, tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari rasa marah yang tidak didengar dan keadilan yang dirasakan semakin menjauh.

“Dari Affan, kita diingatkan bahwa satu nyawa yang hilang tak pernah sekadar statistik. Ia adalah alarm. Tentang keadilan yang mungkin retak. Tentang negara yang harus lebih mendengar,” tutupnya.

Oleh Muhamad Chatib Basri

Ekonom UI, Visiting Scholar, Center for International Development Harvard Kennedy School

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *