DAERAH  

Wujud Pembinaan Menyeluruh: Rutan Barru Serahkan Sertifikat Pelatihan, Pramuka, dan Apresiasi Lomba

BARRU I SUARAHAM – Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Barru kembali menjadi sorotan publik. Kali ini bukan karena isu negatif, melainkan lewat komitmennya yang konsisten dalam membina warga binaan agar tidak hanya sekadar menjalani hukuman, tetapi juga mendapatkan bekal hidup ketika bebas kelak.

Pada Sabtu (27/09), suasana lapangan blok hunian Rutan Barru tampak berbeda. Puluhan warga binaan berkumpul, sebagian dengan raut wajah sumringah, menerima sertifikat pelatihan menjahit setelah menuntaskan program keterampilan yang dijalankan selama beberapa bulan. Bagi mereka, selembar sertifikat itu bukan hanya tanda kelulusan, melainkan bukti nyata bahwa di balik jeruji besi, masih ada harapan untuk menata masa depan.

“Kami belajar bukan hanya cara menjahit, tapi juga disiplin, ketekunan, dan percaya diri. Semoga setelah bebas nanti bisa kami gunakan untuk mencari nafkah yang halal,” ujar salah satu warga binaan kepada Suaraham, dengan mata berbinar.

Tak berhenti pada pelatihan keterampilan, Rutan Barru juga menyerahkan sertifikat kegiatan kepramukaan kepada warga binaan yang terlibat dalam Perkemahan Satya Dharma Bhakti Pemasyarakatan. Program ini jarang terdengar, namun memiliki makna penting: membangun nilai kedisiplinan, kebersamaan, serta semangat pengabdian yang jarang disentuh oleh program pembinaan di tempat lain.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-80. Dari lomba olahraga hingga seni, kegiatan ini menjadi momen berharga untuk menumbuhkan kembali rasa nasionalisme, sportivitas, dan kebersamaan—nilai yang kerap luntur di balik tembok penjara.

Kepala Rutan (Karutan) Barru, Amsar, dalam sambutannya menegaskan bahwa pembinaan tidak boleh berhenti pada satu aspek saja.

“Pembinaan di Rutan Barru bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, dan rasa cinta tanah air. Kami berharap sertifikat dan apresiasi yang diberikan hari ini menjadi motivasi agar warga binaan terus berproses menjadi pribadi yang lebih baik,” tegasnya.

Di balik acara yang penuh simbolik itu, ada pesan yang jauh lebih dalam. Rutan Barru mencoba menunjukkan wajah lain pemasyarakatan: bukan sekadar tempat menghukum, tetapi wadah yang memberi kesempatan kedua. Meski banyak rutan dan lapas di Indonesia kerap dicap sebagai “sekolah kriminal”, langkah-langkah seperti yang dilakukan Rutan Barru menjadi bukti bahwa paradigma tersebut bisa dipatahkan.

Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah bekal keterampilan dan karakter yang ditanamkan cukup kuat untuk melawan stigma masyarakat ketika mereka bebas nanti?

Pengamat pemasyarakatan menilai, program seperti ini penting, tapi tidak boleh berhenti di dalam tembok rutan saja. Dukungan masyarakat dan pemerintah daerah juga menjadi kunci agar warga binaan yang telah dibekali keterampilan benar-benar bisa diterima kembali.

Dengan segala keterbatasannya, Rutan Barru berusaha melawan arus stigma itu. Sertifikat menjahit, kegiatan pramuka, hingga lomba kemerdekaan mungkin terlihat sederhana. Namun bagi warga binaan, semuanya adalah simbol bahwa mereka masih dihargai sebagai manusia yang punya kesempatan kedua.

Rutan Barru pun menegaskan perannya bukan hanya sebagai penjaga, tetapi juga sebagai pembentuk kembali: membangun individu yang jatuh agar bisa bangkit, membawa keterampilan, karakter, dan semangat baru saat kembali ke tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *