Guru Honorer, Garda Terdepan Pendidikan: Pesan dari Makassar di Hari Guru Nasional

MAKASSAR I SUARAHAM — Hari Guru Nasional kembali menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para pendidik di seluruh Indonesia, terutama mereka yang bekerja dalam senyap tanpa banyak fasilitas dan penghargaan.

Salah satunya adalah Wawan Copel, pemuda asal Kabupaten Bantaeng yang memilih merantau ke Makassar demi mengabdikan dirinya sebagai guru honorer di sebuah sekolah swasta.

Keputusan Wawan meninggalkan kampung halaman bukanlah perkara mudah. Berbekal tekad dan keberanian, ia melangkah ke Kota Makassar membawa satu harapan: menghadirkan perubahan kecil bagi masa depan anak bangsa.

Menjadi guru honorer, menurut Wawan, adalah pekerjaan yang penuh tantangan. Keterbatasan fasilitas, pendapatan yang tidak sebanding dengan beban tugas, serta tuntutan profesionalisme yang terus meningkat, kerap menjadi pergulatan sehari-hari.

Namun semua itu tidak menghalangi niatnya untuk tetap berdiri di depan kelas, membimbing generasi muda dengan kesabaran dan ketulusan.

“Bagi saya, mengajar bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah bentuk pengabdian, dan selama siswa-siswa itu masih membutuhkan saya, saya akan tetap di sini,” tuturnya.

Di momen 24 November, bertepatan dengan Hari Guru Nasional, kisah Wawan menjadi gambaran nyata bahwa masih banyak guru honorer yang bekerja dalam keterbatasan namun berperan penting dalam mencerdaskan bangsa. Mereka berdiri di garis depan pendidikan, meski kerap berada di balik bayang-bayang perhatian publik.

Wawan hanyalah satu dari ribuan pejuang pendidikan yang menjadikan ruang kelas sebagai ladang perjuangan, dan masa depan siswa sebagai tujuan utama.

Kisahnya menegaskan bahwa menjadi guru tidak selalu tentang sorotan atau penghargaan, tetapi tentang ketulusan hati. Dan bahwa merantau bukan sekadar mencari penghidupan, melainkan membawa arti bagi kehidupan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *