DAERAH  

Bantaeng Kembali Porak-Poranda, SEMMI: Pemerintah Sibuk Gaya, Rakyat yang Sengsara!

BANTAENG I SUARAHAM — Banjir yang kembali menenggelamkan Kabupaten Bantaeng memicu ledakan kritik dari Wawan Copel, Bendahara Umum PW SEMMI sekaligus Demisioner Ketua SEMMI Bantaeng 2023–2024.

Ia menegaskan tanpa tedeng aling-aling bahwa bencana ini adalah bukti telanjang kegagalan pemerintah daerah dalam mengelola wilayahnya.

Menurut Wawan, banjir yang berulang bukan sekadar persoalan cuaca ekstrem, tetapi hasil dari kelalaian sistematis pemerintah yang gagal menjaga lingkungan, gagal mengawasi tata ruang, dan gagal memahami bahwa Bantaeng bukan hanya panggung pencitraan.

“Jangan lagi pemerintah berlindung di balik alasan hujan. Ini bukan akibat alam—ini akibat abainya pemerintah. Ini bukan bencana alam, ini bencana buatan pemerintah,” tegasnya.

Ia menilai pemerintah daerah selama ini hanya sibuk menyusun slogan, sementara kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa warga justru berkali-kali menjadi korban kebijakan yang tak pernah tuntas.

Bantaeng Bangkit? Yang ada Bantaeng Banjir. Slogan itu hari ini tidak lebih dari lelucon pahit yang menertawakan penderitaan warga,” lanjut Wawan.

Wawan menyoroti kerusakan daerah aliran sungai, alih fungsi lahan yang dibiarkan liar, serta absennya program mitigasi yang konkret. Baginya, pemerintah hanya bergerak ketika kamera menyala, bukan ketika rakyat membutuhkan perlindungan.

“Banjir ini bukan turun tiba-tiba. Ini akibat pembiaran kronis. Pemerintah tahu, tapi memilih diam. Dan diam dalam situasi ancaman adalah bentuk paling brutal dari kegagalan,” ujarnya.

Ia menegaskan, masyarakat Bantaeng sudah terlalu lama disuguhi seremoni, bukan solusi. Jika pola ini terus berulang, ia menyebutkan sejarah kelak akan mengingat bahwa yang paling membahayakan bukan hujan deras, tetapi ketidakseriusan pemerintahnya sendiri.

“Kita butuh pemimpin yang bekerja, bukan pemimpin yang sibuk membuat narasi indah. Jika pemerintah tak mampu mengurus Bantaeng, maka akuilah. Jangan menipu diri dengan slogan kosong,” tutup Wawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *