Saat Negara Absen, KOMRAD Hadir Menghimpun Pemuda Putus Sekolah di Makassar

MAKASSAR | SUARAHAM — Komite Rakyat Demokratik (KOMRAD) kembali menunjukkan perannya sebagai ruang alternatif pembinaan generasi muda.

Melalui agenda perekrutan anggota baru bertajuk “Black School”, KOMRAD berhasil menarik perhatian puluhan pemuda dari berbagai wilayah di Kota Makassar. Kegiatan ini digelar pada 10 Januari 2026 dan berlangsung aman serta lancar.

Agenda tersebut tidak hanya menjadi ajang rekrutmen, tetapi juga ruang diskusi terbuka bagi anak-anak muda yang selama ini terpinggirkan dari sistem pendidikan formal.

Sejumlah peserta diketahui merupakan anak putus sekolah, bahkan sebagian di antaranya masih terlibat dalam kenakalan remaja dan aktivitas yang beririsan dengan pelanggaran hukum.

Dewan Komando KOMRAD, Yayat, menyampaikan rasa syukur atas suksesnya kegiatan tersebut.

Ia menegaskan bahwa antusiasme peserta menunjukkan masih kuatnya harapan generasi muda untuk berubah dan berproses.

“Alhamdulillah, kegiatan perekrutan ini mendapat respons luar biasa. Pemuda-pemudi dari berbagai latar belakang hadir dan ingin belajar bersama di KOMRAD,” ujar Yayat.

Menurutnya, kegiatan kali ini justru didominasi oleh anak-anak muda yang selama ini tidak mendapat ruang pembinaan yang layak. KOMRAD, kata Yayat, memilih pendekatan dialog dan pendampingan, bukan penghakiman.

“Kami duduk bersama, mendengarkan satu per satu keluh kesah mereka. Bagi yang masih aktif dalam kegiatan yang melawan hukum, kami ajak rembuk, kami arahkan, bukan kami jauhi,” tegasnya.

Yayat menambahkan, seluruh anggota baru didorong untuk berbenah diri, membangun kesadaran kolektif, dan perlahan meninggalkan kebiasaan yang berpotensi merugikan masa depan mereka.

Selain kalangan pemuda marginal, perekrutan ini juga dihadiri oleh mahasiswa dan pelajar dari berbagai daerah di Makassar.

Hal tersebut, menurut Yayat, menegaskan bahwa KOMRAD adalah ruang terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar dan berproses secara kritis.

“KOMRAD terbuka untuk umum. Mahasiswa, pelajar, maupun pemuda putus sekolah bisa tumbuh bersama di sini,” pungkasnya.

Ke depan, KOMRAD berencana memprioritaskan pendataan anak-anak putus sekolah yang masih memiliki niat untuk melanjutkan pendidikan.

Yayat mengungkapkan bahwa sebagian besar dari mereka terpaksa berhenti sekolah karena faktor ekonomi.

“Yang menarik, meski putus sekolah, mereka masih punya semangat untuk kembali belajar. Ini potensi yang tidak boleh diabaikan,” katanya.

Atas dasar itu, KOMRAD secara terbuka mendorong pemerintah dan instansi terkait agar hadir memberikan solusi konkret, khususnya dengan membuka akses pendidikan nonformal seperti paket ujian kesetaraan tanpa pungutan biaya.

“Negara tidak boleh abai. Mereka hanya butuh ruang dan kesempatan,” tutup Yayat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *