banner 600x130
RAGAM  

Puluhan Juta Rupiah Raib? Belasan Member Arisan Tuntut Pertanggungjawaban Owner Butik di Hertasning

banner 400x130

MAKASSAR | SUARAHAM – Dugaan penggelapan dana arisan online kembali mencuat di Kota Makassar. Seorang owner butik di kawasan Hertasning menjadi sorotan setelah belasan peserta arisan mengaku belum menerima dana yang menjadi hak mereka, meski seluruh kewajiban pembayaran iuran disebut telah dipenuhi.

Para peserta menilai persoalan ini bukan lagi sekadar keterlambatan pembayaran. Mereka menduga terdapat penguasaan dana milik member tanpa kejelasan penyelesaian. Sejumlah korban juga mengaku mengalami penundaan pencairan berulang, pemotongan nominal tanpa penjelasan yang transparan, hingga tekanan verbal saat terus menagih hak mereka.

Dana arisan yang dijanjikan cair sejak April hingga Mei 2026 disebut belum diterima secara utuh. Kondisi tersebut membuat sebagian peserta mengalami kesulitan ekonomi karena dana yang telah mereka setorkan tak kunjung kembali.

Salah seorang korban berinisial H mengaku belum menerima dana arisan sebesar Rp1,5 juta yang rencananya digunakan untuk biaya pengobatan di rumah sakit.

“Saya sangat membutuhkan uang itu. Bukannya dibayar, saya justru diminta berhenti menghubungi dan dituduh belum membayar, padahal semua kewajiban saya sudah saya selesaikan,” ungkap H.

Korban lain berinisial YYS mengaku mengalami kerugian yang diduga mencapai Rp13,8 juta. Hingga kini, haknya disebut belum dipenuhi meski telah berulang kali meminta penyelesaian.

Berdasarkan data yang dihimpun dari para korban, nilai dana yang diduga belum dikembalikan mencapai puluhan juta rupiah, di antaranya:

  • YYS : Rp13.800.000
  • E : Rp7.250.000
  • KN : Rp7.000.000
  • N : Rp6.000.000
  • M : Rp6.000.000
  • A : Rp6.000.000
  • R : Rp4.000.000
  • NA : Rp3.700.000
  • F : Rp3.000.000
  • U : Rp1.500.000
  • H : Rp1.500.000

Jumlah tersebut diperkirakan masih bertambah karena sejumlah peserta lain mulai bermunculan dan mengaku mengalami persoalan serupa.

Seorang peserta berinisial AA mengaku memilih menghentikan keikutsertaannya setelah melihat banyaknya keluhan dari member lain di grup arisan.

“Nama saya memang belum keluar. Tapi setelah melihat banyak teman mengeluh belum dibayar, saya memutuskan berhenti dan meminta seluruh uang saya yang sudah masuk sekitar Rp6 juta,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (26/6/2026).

Para peserta juga mengaku resah lantaran setiap kali menyampaikan keluhan melalui grup komunikasi maupun media sosial, pembayaran justru disebut-sebut terancam tidak diproses. Beberapa korban mengaku menerima intimidasi verbal dan merasa dibungkam ketika meminta kepastian mengenai dana mereka.

Selain itu, akses komunikasi dengan pengelola arisan disebut semakin sulit. Nomor telepon diklaim kerap tidak dapat dihubungi, sementara upaya mendatangi butik untuk meminta penyelesaian disebut berujung pada penyampaian bahwa persoalan tersebut akan dihadapi melalui kuasa hukum.

Merasa tidak lagi memperoleh kepastian, para korban mendesak aparat penegak hukum melakukan penyelidikan secara profesional dan transparan terhadap dugaan penyalahgunaan dana tersebut. Mereka berharap seluruh hak peserta dapat dipulihkan apabila dugaan tersebut terbukti.

Sementara itu, saat dikonfirmasi melalui aplikasi WhatsApp, pihak owner butik memberikan tanggapan dengan menanyakan, “Berapa saya bayar supaya berita ini tidak di-up?”

Dalam percakapan yang sama, ia juga menyampaikan, “Setahu saya wartawan itu harus membuat berita sesuai fakta, bukan mencari sensasi. Kalau mau fakta, silakan datang ke saya sebagai pihak yang dijadikan objek pemberitaan.”

Redaksi memuat keterangan tersebut sebagai bentuk keberimbangan pemberitaan. Hingga berita ini diterbitkan, persoalan tersebut masih berupa dugaan dan belum terdapat putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Semua pihak tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *