banner 600x130
HUKRIM  

Heboh! Kasat Narkoba Bulukumba Blokir WA Wartawan Saat Dikonfirmasi Soal Bandar Narkoba

banner 400x130

BULUKUMBA I SUARAHAM – Isu peredaran narkotika di Kabupaten Bulukumba kembali menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Di saat aparat kepolisian terus menggaungkan komitmen perang terhadap narkoba, sejumlah warga justru mengaku masih melihat peredaran barang haram tersebut sebagai ancaman nyata yang belum sepenuhnya teratasi.

Beberapa warga yang ditemui mengaku prihatin dengan kondisi yang mereka nilai masih memprihatinkan. Menurut mereka, penangkapan pelaku narkoba memang kerap terjadi, namun mayoritas yang muncul ke publik adalah pengguna, kurir, atau pelaku lapangan dengan peran yang relatif kecil dalam jaringan peredaran.

“Kalau melihat pemberitaan, yang sering ditangkap itu pemain kecil. Masyarakat tentu bertanya-tanya, bagaimana dengan bandar atau jaringan yang lebih besar?” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan identitasnya.

Pernyataan serupa juga disampaikan seorang sopir yang sehari-hari beraktivitas di wilayah Bulukumba. Ia mengaku kerap mendengar keluhan masyarakat mengenai peredaran narkoba yang dinilai masih sulit diberantas hingga ke akar-akarnya.

Menurutnya, di kalangan masyarakat berkembang anggapan bahwa penegakan hukum terhadap jaringan besar narkoba belum terlihat maksimal. Bahkan, muncul berbagai spekulasi dan dugaan yang beredar dari mulut ke mulut mengenai kemungkinan adanya pihak-pihak tertentu yang melindungi para pelaku utama. Namun hingga kini, dugaan tersebut belum pernah dibuktikan dan masih sebatas opini yang berkembang di masyarakat.

“Yang menjadi masalah adalah ketika masyarakat mulai kehilangan kepercayaan. Kalau bandar besar tidak pernah terlihat ditangkap, sementara pemain kecil terus bermunculan, maka pertanyaan itu akan terus ada,” katanya.

Sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial dan kerja jurnalistik, wartawan kemudian berupaya meminta klarifikasi kepada Kasat Narkoba Polres Bulukumba, AKP Salehuddin. Konfirmasi dilakukan untuk memperoleh penjelasan resmi terkait berbagai persepsi dan pertanyaan yang berkembang di tengah masyarakat mengenai pemberantasan narkoba di wilayah hukum Polres Bulukumba.

Namun alih-alih memperoleh jawaban atau penjelasan resmi, wartawan justru mendapati nomor WhatsApp yang digunakan untuk melakukan konfirmasi diduga telah diblokir.

Peristiwa tersebut sontak menimbulkan tanda tanya. Sebab, dalam praktik jurnalistik yang sehat, konfirmasi merupakan bagian penting dari prinsip keberimbangan berita. Melalui konfirmasi, pejabat publik memiliki kesempatan menjelaskan fakta, membantah informasi yang tidak benar, maupun menyampaikan capaian dan langkah-langkah yang telah dilakukan institusinya.

Pemblokiran akses komunikasi terhadap wartawan justru dianggap sebagai sikap yang tidak sejalan dengan semangat keterbukaan informasi publik. Apalagi isu yang hendak dikonfirmasi berkaitan langsung dengan persoalan narkoba, yang selama ini menjadi salah satu kejahatan luar biasa dan mendapat perhatian luas dari masyarakat.

Sejumlah pegiat sosial yang dimintai tanggapannya menilai bahwa pejabat publik semestinya tidak alergi terhadap pertanyaan wartawan. Sebaliknya, media harus dipandang sebagai mitra dalam menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat.

“Kalau ada pertanyaan, jawab saja. Kalau ada informasi yang salah, luruskan. Kalau ada keberhasilan, sampaikan. Tapi ketika komunikasi diputus, tentu publik akan bertanya-tanya,” ujar salah seorang aktivis dimakassar.

Fenomena pemblokiran nomor wartawan oleh pejabat publik bukan kali pertama terjadi. Namun dalam konteks pemberantasan narkoba, tindakan tersebut dinilai dapat memperburuk persepsi masyarakat terhadap keseriusan aparat dalam membangun transparansi.

Publik tentu memahami bahwa tidak semua informasi penyidikan dapat dibuka ke media. Namun memberikan penjelasan umum mengenai langkah pemberantasan narkoba dan menjawab pertanyaan yang berkembang di masyarakat merupakan bagian dari akuntabilitas institusi kepada publik.

Di sisi lain, masyarakat Bulukumba saat ini berharap agar perang melawan narkoba tidak hanya berhenti pada penangkapan pelaku-pelaku kecil. Harapan terbesar publik adalah pengungkapan jaringan yang lebih besar, termasuk aktor utama yang selama ini dianggap menjadi sumber peredaran narkotika.

Karena itu, transparansi dan komunikasi yang baik antara aparat penegak hukum dan media menjadi hal yang sangat penting. Kepercayaan publik tidak hanya dibangun melalui operasi penangkapan, tetapi juga melalui keterbukaan dalam memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Hingga berita ini diterbitkan, Kasat Narkoba Polres Bulukumba AKP Salehuddin belum memberikan tanggapan atas upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan. Nomor WhatsApp yang digunakan untuk meminta klarifikasi diketahui tidak lagi dapat dihubungi.

Kini publik menunggu penjelasan resmi. Sebab di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap ancaman narkoba, yang dibutuhkan adalah jawaban dan keterbukaan, bukan sekadar keheningan yang memunculkan semakin banyak pertanyaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *