ENREKANG I SUARAHAM — Antara Peringatan Hari Buruh dan Luka yang Tak Kunjung Sembuh
Momentum Hari Buruh yang seharusnya menjadi ruang refleksi atas nilai kerja dan keadilan justru menghadirkan ironi di Kabupaten Enrekang.
Di balik seremoni tahunan, realitas para pekerja masih jauh dari kata sejahtera. Hari Buruh tak lagi sekadar perayaan, melainkan cermin retak yang memantulkan wajah-wajah lelah mereka yang bekerja keras namun suaranya nyaris tak pernah didengar.
Formatur Ketua Umum SEMMI Cabang Enrekang, Muhammad Aswin R., menilai persoalan yang dihadapi masyarakat tidak berhenti pada isu ketenagakerjaan semata.
Ia menyoroti perubahan wajah wilayah Enrekang, di mana tanah yang dulunya menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi arena perebutan kepentingan.
Aktivitas pertambangan emas disebut kian masif, menggeser keseimbangan antara ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Menurutnya, di balik kebijakan yang tampak tertata, tersimpan dugaan praktik yang mencederai rasa keadilan. Isu korupsi dan penyalahgunaan kewenangan terus berulang tanpa penanganan yang tegas.
Keputusan-keputusan strategis dinilai lebih menguntungkan segelintir pihak, sementara masyarakat luas terutama buruh justru menjadi pihak yang paling terdampak.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa praktik korupsi perlahan bergerak menuju normalisasi.
Di sisi lain, nasib buruh belum menunjukkan perubahan signifikan. Upah yang stagnan harus berhadapan dengan kebutuhan hidup yang terus meningkat.
Keringat yang mereka curahkan setiap hari belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan yang diterima.
Penolakan terhadap aktivitas pertambangan emas pun semakin menguat. Warga menilai eksploitasi sumber daya alam tidak hanya mengeruk isi bumi, tetapi juga menggerus harapan hidup masyarakat.
Dampak lingkungan mulai terasa air yang dulunya jernih kini keruh, hutan kehilangan fungsi ekologis, dan konflik sosial kian sulit dihindari.
Di tengah situasi itu, masyarakat sering kali hanya menerima sisa: janji yang tak ditepati dan ketidakpastian yang berkepanjangan.
Pertanyaan mendasar pun mencuat: siapa yang sebenarnya diuntungkan? Ketika tanah kehilangan jati dirinya, masyarakat justru berada di posisi paling rentan dan terpinggirkan.
Dalam situasi tersebut, peran kaum muda menjadi krusial. Mereka dihadapkan pada pilihan: tetap diam dalam zona aman, atau bersuara dengan segala konsekuensinya.
Di titik ini, keberanian untuk melawan ketidakadilan menjadi taruhan sekaligus harapan.
Muhammad Aswin menegaskan, perubahan tidak lahir dari kenyamanan.
Ia tumbuh dari keberanian menyebut yang salah sebagai salah, serta sikap tegas menolak tunduk pada keadaan yang memelihara ketimpangan.
Enrekang, kata dia, tidak membutuhkan pahlawan sesaat, melainkan generasi yang memiliki kesadaran kritis, integritas, dan keberanian untuk terus mempertanyakan.
Momentum Hari Buruh tahun ini pun diharapkan tidak berhenti pada seremoni.
Lebih dari itu, ia menjadi panggilan untuk melanjutkan perjuangan dengan kejujuran, ketegasan, dan keberanian dalam menghadapi persoalan yang terus membelit masyarakat.
Sebab masa depan tidak datang begitu saja, melainkan dibentuk dari sikap dan tindakan hari ini.











