INTERNASIONAL | SUARAHAM – AS Ancam Sanksi Global, Perusahaan yang Layani Maskapai Iran Terancam “Diblokir Total”
Pemerintah Amerika Serikat kembali memperkeras tekanan terhadap Iran dengan mengeluarkan peringatan keras kepada perusahaan global: siapa pun yang masih bekerja sama dengan maskapai penerbangan Iran, siap-siap menghadapi sanksi berat dari Washington.
Langkah ini bukan sekadar peringatan biasa, melainkan bagian dari strategi agresif Amerika untuk “mencekik” jalur ekonomi Iran di tengah konflik geopolitik yang terus membara.
Mengutip laporan Reuters, Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin (27/4/2026) menegaskan bahwa pihaknya tidak akan ragu menindak tegas siapa pun yang terlibat dalam aktivitas bisnis dengan entitas penerbangan Iran yang telah masuk daftar hitam.
“Melakukan bisnis dengan maskapai Iran yang disanksi berarti membuka diri terhadap sanksi AS,” tegas Bessent.
Tak hanya itu, Washington juga menekan negara lain agar ikut “patuh”, dengan meminta pemerintah di berbagai belahan dunia memastikan perusahaan di wilayah mereka tidak memberikan layanan apa pun kepada maskapai Iran.
Layanan yang dimaksud mencakup sektor vital penerbangan: mulai dari pengisian bahan bakar, katering, biaya pendaratan, hingga perawatan pesawat. Artinya, ruang gerak maskapai Iran berpotensi dipersempit secara sistematis di level global.
Lebih jauh, Departemen Keuangan AS bahkan mengancam akan menjatuhkan sanksi sekunder terhadap lembaga keuangan asing yang masih berani memfasilitasi transaksi terkait Iran. Ini berarti, bukan hanya perusahaan penerbangan, tetapi juga bank dan institusi keuangan dunia bisa ikut terseret.
Namun di tengah tekanan itu, Iran mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan aktivitas. Media pemerintah setempat melaporkan bahwa penerbangan komersial dari bandara internasional Teheran kembali beroperasi untuk pertama kalinya sejak konflik pecah.
Sejumlah rute internasional mulai dibuka kembali, termasuk ke Istanbul, Muscat (Oman), Madinah (Arab Saudi), serta beberapa kota di Irak dan Qatar. Ini menjadi sinyal bahwa Iran berupaya bangkit meski berada di bawah tekanan berat.
Sebelumnya, Amerika Serikat secara terbuka mengakui tengah menjalankan strategi “cekikan finansial” untuk melumpuhkan ekonomi Iran. Kebijakan ini menjadi bagian dari eskalasi konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran sejak 28 Februari lalu.
Konflik tersebut telah menelan korban jiwa dalam jumlah besar dan memaksa jutaan orang mengungsi, memperburuk situasi kemanusiaan di kawasan.
Meski sempat muncul gencatan senjata yang rapuh dalam beberapa pekan terakhir, kondisi di lapangan masih jauh dari stabil. Ketegangan tinggi terus membayangi, dan ancaman eskalasi baru tetap terbuka











