GOWA I SUARAHAM – Tindakan represif yang terjadi dalam aksi unjuk rasa kader SEMMI se-Sulawesi Selatan di kawasan PT KIMA menuai kecaman keras dari Ketua Umum SEMMI Cabang Gowa, Muhammad Fajrin.
Ia menyebut insiden pemukulan menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) terhadap salah satu kader SEMMI sebagai bentuk kekerasan brutal yang mencederai demokrasi dan menginjak hak konstitusional warga negara.
Menurut Fajrin, mahasiswa turun ke jalan bukan untuk membuat kerusuhan, melainkan menjalankan hak yang dijamin undang-undang: menyampaikan pendapat di muka umum. Namun yang terjadi di lapangan justru tindakan yang dianggap tidak manusiawi dan penuh intimidasi.
“Mahasiswa datang membawa suara rakyat, bukan senjata. Tapi justru dibalas dengan kekerasan. Kader kami dihantam APAR saat menyampaikan aspirasi. Ini bukan sekadar insiden biasa, ini bentuk nyata pembungkaman terhadap gerakan mahasiswa!” tegas Muhammad Fajrin, Jumat (22/5/2026).
Ia mempertanyakan wajah demokrasi hari ini ketika aksi damai justru direspons secara represif. Menurutnya, tindakan tersebut tidak bisa dianggap sebagai kelalaian biasa karena telah mengancam keselamatan massa aksi dan meninggalkan luka fisik maupun psikologis bagi korban.
“Kalau mahasiswa yang menyuarakan kebenaran saja dipukul dan diteror, lalu di mana letak negara hukum? Di mana jaminan kebebasan berpendapat yang selama ini diagungkan?” lanjutnya.
Fajrin juga mendesak Polrestabes Makassar agar bergerak cepat mengusut tuntas pelaku di balik tindakan represif tersebut tanpa kompromi dan tanpa tebang pilih. Ia menegaskan SEMMI tidak akan tinggal diam apabila proses hukum berjalan lambat atau terkesan ditutup-tutupi.
“Kami mendesak aparat penegak hukum segera menetapkan pihak yang bertanggung jawab. Jangan ada upaya melindungi pelaku. Jangan biarkan kasus ini menguap begitu saja. Keadilan harus ditegakkan seterang-terangnya!” ujarnya lantang.
SEMMI Cabang Gowa, kata Fajrin, akan terus mengawal kasus tersebut melalui berbagai jalur perjuangan, baik aksi massa, konsolidasi organisasi, hingga tekanan publik melalui media. Mereka menilai kekerasan terhadap mahasiswa adalah ancaman serius terhadap kebebasan sipil dan demokrasi di Indonesia.
“Sejarah membuktikan, semakin keras upaya membungkam gerakan mahasiswa, semakin besar gelombang perlawanan yang lahir. Kami tidak akan takut. Solidaritas adalah kekuatan kami, dan perjuangan ini tidak akan berhenti sampai keadilan benar-benar ditegakkan!” tutupnya.











