ENREKANG I SUARAHAM — Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Enrekang mengecam keras dugaan tindakan represif yang terjadi saat aksi unjuk rasa SEMMI se-Sulawesi Selatan di kawasan PT KIMA.
Insiden tersebut memicu gelombang kecaman setelah salah satu kader SEMMI Cabang Gowa dilaporkan mengalami sesak napas serius dan harus dilarikan ke rumah sakit akibat paparan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di tengah jalannya aksi.
Ketua Umum SEMMI Cabang Enrekang, Muhammad Aswin R, menilai tindakan tersebut bukan sekadar insiden biasa, melainkan alarm bahaya bagi kebebasan sipil dan masa depan demokrasi di Indonesia.
Menurutnya, penggunaan APAR terhadap massa aksi sipil yang sedang menyampaikan aspirasi patut dipersoalkan secara hukum maupun moral, karena demonstrasi merupakan hak konstitusional yang dijamin undang-undang.
“Ketika kritik dibalas dengan tindakan represif, maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya keselamatan mahasiswa, tetapi juga masa depan demokrasi itu sendiri,” tegas Aswin.
SEMMI Cabang Enrekang menilai kekerasan terhadap mahasiswa tidak boleh dianggap sebagai hal lumrah ataupun dibiarkan berlalu tanpa pertanggungjawaban hukum.
Bagi mereka, gerakan mahasiswa merupakan garda kontrol sosial yang hadir untuk mengawal kebijakan publik dan menyuarakan kepentingan rakyat, bukan untuk dibungkam dengan intimidasi.
Atas dasar itu, SEMMI Cabang Enrekang mendesak Polrestabes Makassar agar bertindak serius, transparan, dan profesional dalam menangani kasus tersebut.
Mereka meminta proses hukum berjalan objektif tanpa intervensi pihak mana pun serta tidak berhenti pada formalitas administratif semata.
Selain mendesak penegakan hukum, SEMMI juga meminta adanya keterbukaan informasi kepada publik terkait perkembangan penanganan kasus sebagai bentuk akuntabilitas institusi penegak hukum.
“Asas demokrasi tidak boleh kalah oleh tindakan intimidasi. Sejarah bangsa ini membuktikan bahwa perubahan lahir dari keberanian rakyat dan mahasiswa dalam melawan ketidakadilan. Karena itu, gerakan mahasiswa tidak boleh dibungkam dengan kekerasan,” lanjut Aswin.
SEMMI Cabang Enrekang menyatakan solidaritas penuh terhadap seluruh kader SEMMI se-Sulawesi Selatan untuk terus mengawal kasus tersebut hingga tuntas.
Mereka menegaskan negara wajib hadir menjamin hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat di muka umum tanpa ancaman represi.
“Jika kritik dibalas dengan kekerasan, maka demokrasi sedang kehilangan keberaniannya untuk mendengar.”
Satu kader SEMMI tersakiti, seluruh kader bergerak.
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!











