KILMASA | SUARAHAM — Sejarah Gereja Bandil Kasih Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Kilmasa kembali dikenang menjelang pelaksanaan Kilmasa Panggil Pulang yang dijadwalkan berlangsung pada Desember 2026.
Di tengah persiapan menyambut kepulangan anak negeri Kilmasa dari berbagai penjuru Indonesia, masyarakat dan jemaat GPM Kilmasa kembali bahu-membahu menggalang dana untuk melakukan renovasi Gedung Gereja Bandil Kasih.
Puncak rangkaian Kilmasa Panggil Pulang dijadwalkan berlangsung pada 21 Desember 2026. Sementara anak negeri Kilmasa dari berbagai daerah diharapkan mulai berkumpul di desa dan jemaat Kilmasa sejak 15 Desember 2026.
Bagi masyarakat Kilmasa, renovasi gereja bukan sekadar pekerjaan memperbaiki bangunan. Ada sejarah panjang, pergumulan iman, kebersamaan, serta pengorbanan jemaat yang melekat pada setiap bagian Gedung Gereja Bandil Kasih.
Berawal dari Pergumulan Menentukan Nama
Sejarah itu bermula pada 2011, ketika pelayanan Jemaat GPM Kilmasa berada di bawah kepemimpinan Ketua Majelis Jemaat, Pdt. Rizal Lekatompessy, S.Si.
Saat itu, struktur pelayanan jemaat terdiri atas enam penatua, enam diaken dan enam tuagama gereja.
Salah satu bagian paling berkesan dalam proses pembangunan gereja adalah ketika masyarakat dan seluruh komponen jemaat harus menentukan nama yang akan diberikan kepada rumah ibadah tersebut.
Sejumlah tokoh masyarakat dan unsur jemaat kemudian berdialog untuk mencari nama yang dianggap tepat.
Namun, keputusan tidak serta-merta diambil.
Pdt. Lekatompessy ketika itu meminta agar persoalan nama gereja terlebih dahulu disampaikan melalui warta jemaat. Seluruh jemaat kemudian diminta hadir dalam ibadah Minggu untuk bersama-sama bergumul dan memohon petunjuk Tuhan.
Usai ibadah, jemaat dan berbagai unsur masyarakat yang hadir tidak langsung meninggalkan gereja. Mereka bersama-sama melakukan pergumulan sebelum keputusan mengenai nama gereja ditetapkan.
Dua nama kemudian muncul.
Pertama, Gereja Via Dolorosa, nama yang dititipkan oleh mantan Pdt. Ny. R. Parera/Talapessy.
Kedua, Gereja Bandil Kasih, nama yang diusulkan oleh J. Lambiombir.
Kedua nama tersebut kemudian ditulis pada dua lembar kertas berbeda dan dimasukkan ke dalam sebuah cawan.
Setelah doa dipanjatkan, jemaat mempercayakan Penatua Yacob Sarhunan, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Jemaat, untuk mengambil salah satu kertas dari dalam cawan.
Kertas dibuka.
Nama yang tertulis di dalamnya adalah Gereja Bandil Kasih.
Bagi jemaat, proses tersebut kemudian dikenang sebagai bagian dari pergumulan iman dalam menentukan nama rumah ibadah mereka.
Nama Bandil Kasih dimaknai sebagai “pelabuhan yang tenang”—sebuah penggambaran yang sarat makna bagi rumah ibadah sebagai tempat jemaat datang mencari ketenangan, pengharapan dan kekuatan dalam menghadapi perjalanan kehidupan.
Pembangunan yang Diwarnai Perjuangan
Perjalanan pembangunan Gereja Bandil Kasih tidak berlangsung tanpa tantangan.
Berbagai dinamika kehidupan dihadapi jemaat. Bahkan menjelang peresmian gereja, Jemaat GPM Kilmasa harus kehilangan salah satu penatua, almarhum H. Teriola, yang dipanggil kembali ke hadirat Tuhan.
Duka tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang pembangunan gereja yang kemudian dikenang oleh generasi berikutnya.
Dalam persiapan menjelang peresmian, Pdt. Rizal Lekatompessy mengingatkan bahwa keberhasilan pelayanan tidak dapat dicapai secara instan.
Menurutnya, dibutuhkan keseriusan, konsentrasi dan kebersamaan seluruh unsur jemaat untuk menyelesaikan pekerjaan pelayanan, termasuk mempersiapkan peresmian gereja.
Peresmian Gereja Bandil Kasih kemudian berlangsung pada 28 Desember 2011.
Bukan Sekadar Bangunan
Bagi Pdt. Lekatompessy, membangun dan meresmikan gereja memiliki makna yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar mendirikan sebuah bangunan.
“Bapa, ibu penatua, diaken dan tuagama, membangun gereja sekaligus meresmikan gereja bukanlah pembangunan rumah biasa, tetapi yang dibangun ialah pembangunan Bait Allah,” demikian pesan yang dikenang dari masa pelayanan tersebut.
Dalam perjalanan pelayanan Majelis Jemaat GPM Kilmasa, berbagai tantangan kehidupan terus hadir. Ada jemaat yang mengalami sakit, ada keluarga yang kehilangan suami maupun istri, serta berbagai persoalan kehidupan lainnya.
Namun, seluruh dinamika tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan iman dan kebersamaan jemaat.
Kilmasa Panggil Pulang dan Sejarah yang Kembali Dihidupkan
Kini, 15 tahun setelah peresmian Gereja Bandil Kasih, sejarah tersebut kembali mendapatkan perhatian.
Persiapan Kilmasa Panggil Pulang 2026 menjadi momentum bagi anak negeri Kilmasa yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia untuk kembali ke tanah kelahiran.
Masyarakat dan jemaat pun kembali bergotong royong menggalang dana untuk renovasi Gereja Bandil Kasih.
Upaya tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperindah dan memperkuat bangunan gereja, tetapi juga untuk mempersiapkan rumah ibadah yang menjadi salah satu simbol perjalanan sejarah Jemaat GPM Kilmasa.
Sejarah proses pembangunan dan penamaan Gereja Bandil Kasih rencananya akan kembali diangkat dan dibagikan dalam rangkaian kegiatan Kilmasa Panggil Pulang 2026.
Bagi generasi yang lahir dan tumbuh setelah gereja tersebut berdiri, kisah itu menjadi pengingat bahwa sebuah bangunan tidak lahir begitu saja.
Di baliknya ada doa, pergumulan, kerja bersama, pengorbanan, kehilangan dan harapan.
Gedung Gereja Bandil Kasih pun diharapkan tetap menjadi kebanggaan masyarakat dan jemaat Kilmasa hingga generasi-generasi mendatang.
Pdt. Lekatompessy juga menitipkan pesan kepada anak cucu negeri Kilmasa agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.
Sebab, dalam setiap pekerjaan pelayanan, dinamika kehidupan dan berbagai rintangan merupakan bagian dari perjalanan yang harus dihadapi bersama.
“Walaupun banyak tantangan dan dinamika kehidupan yang akan kita hadapi bersama, kita harus tahu bahwa dalam mengerjakan pekerjaan Tuhan, Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkan kita semua.”











