banner 600x130
RAGAM  

Tak Sekadar Modal Kerja, B8C Kaltim Dorong Bankaltimtara Biayai Kebutuhan Alsintan

SAMARINDA I SUARAHAM — Barisan 8 Center (B8C) DPW Kalimantan Timur mendorong Bankaltimtara memperluas akses pembiayaan bagi sektor pertanian, termasuk membuka peluang pengembangan skema kredit untuk alat dan mesin pertanian (alsintan).

Dorongan tersebut disampaikan B8C saat menyerahkan usulan pengembangan akses pembiayaan kepada Bankaltimtara dalam pertemuan yang membahas kebutuhan pembiayaan petani serta peluang kerja sama di sektor mekanisasi pertanian.

Ketua DPW B8C Kaltim, Eka Marindra Lutviandi, hadir bersama Wakil Ketua DPW B8C Kaltim Bambang Irawan dan Kadek Yusa, yang mewakili unsur pengusaha sekaligus petani.

Sementara dari Bankaltimtara, pertemuan tersebut dihadiri Arif Tri Cahyono, Pemimpin Bidang Perkreditan.

B8C menilai karakter usaha pertanian membutuhkan pendekatan pembiayaan yang tidak sepenuhnya disamakan dengan sektor usaha lainnya. Selain modal kerja, petani membutuhkan dukungan pembiayaan untuk meningkatkan kapasitas produksi, termasuk melalui penggunaan teknologi dan mekanisasi.

Kredit Pertanian Jangan Hanya Berhenti pada Modal Kerja

Eka Marindra Lutviandi mengatakan, usulan yang disampaikan kepada Bankaltimtara diarahkan untuk membangun hubungan yang lebih erat antara kebutuhan riil petani dan sistem pembiayaan perbankan.

Menurutnya, pembiayaan sektor pertanian idealnya tidak hanya memberikan tambahan modal, tetapi juga mampu mendukung peningkatan produktivitas serta keberlanjutan usaha tani.

“Kami datang membawa usulan yang konkret. Kami ingin membangun jembatan antara kebutuhan riil petani dengan sistem pembiayaan perbankan. Salah satunya bagaimana kebutuhan alsintan dapat masuk dalam skema pembiayaan yang memungkinkan petani maupun kelompok usaha tani mengaksesnya secara sehat,” ujar Eka.

Ia menyebut mekanisasi menjadi salah satu unsur penting dalam mendorong modernisasi pertanian sekaligus menarik minat generasi muda untuk masuk ke sektor tersebut.

“Kalau kita ingin anak muda masuk ke sektor pertanian, pertanian harus kita dorong menjadi usaha yang produktif, modern dan memiliki akses pembiayaan. Alsintan merupakan salah satu instrumen penting untuk menuju ke sana,” katanya.

Dorong Skema Kredit Alsintan

Dalam pertemuan tersebut, B8C juga menjajaki kemungkinan pengembangan pola pembiayaan khusus untuk kebutuhan alsintan.

Kebutuhan tersebut mencakup berbagai peralatan mekanisasi pertanian, mulai dari mesin pengolahan lahan, alat panen, mesin pascapanen hingga sarana pendukung lainnya.

Namun, B8C menekankan bahwa pembiayaan tersebut tetap harus memperhatikan kelayakan usaha serta ketentuan kredit yang berlaku di Bankaltimtara.

Konsep yang ditawarkan juga tidak semata-mata berorientasi pada penyaluran kredit. B8C mendorong agar pembiayaan dapat dikaitkan dengan kelembagaan petani, pendampingan, kepastian pasar atau offtaker, serta pola produksi yang jelas.

Dengan pendekatan tersebut, pembiayaan diharapkan tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan rantai usaha pertanian dari produksi hingga pemasaran.

Petani, Kelompok Tani hingga Pelaku Jasa Pertanian

Skema pembiayaan alsintan yang dijajaki nantinya berpotensi menyasar petani, kelompok tani, koperasi, BUMDes maupun pelaku usaha yang bergerak dalam jasa mekanisasi pertanian.

Kadek Yusa yang hadir dari unsur pengusaha sekaligus petani menyampaikan perspektif mengenai kebutuhan pembiayaan dan peralatan pertanian di lapangan.

Menurutnya, ketersediaan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan usaha menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung peningkatan kapasitas produksi petani.

Sementara itu, Bambang Irawan menekankan pentingnya membangun pola kerja sama yang mempertemukan kebutuhan petani dengan lembaga pembiayaan secara langsung, terukur dan tetap memperhatikan aspek kelayakan usaha.

B8C Ingin Bangun Ekosistem Pembiayaan Pertanian

B8C DPW Kaltim menempatkan pembiayaan sebagai salah satu bagian dari upaya membangun ekosistem pertanian yang lebih terintegrasi.

Ekosistem tersebut diharapkan dapat mempertemukan petani, lembaga pembiayaan, dunia usaha, pendamping, teknologi dan pasar dalam satu pola pengembangan usaha.

Usulan yang telah disampaikan kepada Bankaltimtara selanjutnya diharapkan menjadi bahan pembahasan lebih lanjut, terutama untuk melihat kemungkinan penerapan skema pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik usaha pertanian.

Eka menegaskan, penyerahan usulan tersebut bukan menjadi tahap akhir.

“Kami tidak ingin berhenti pada penyerahan dokumen. Harapannya ini menjadi awal pembahasan teknis. Kalau ada bagian yang perlu diperbaiki dari sisi skema kredit, kami siap duduk bersama dan menyesuaikannya dengan kebutuhan petani serta ketentuan perbankan,” ujarnya.

B8C DPW Kaltim selanjutnya berencana melanjutkan koordinasi dengan unsur petani, pengusaha, akademisi dan pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat konsep tersebut sebelum memasuki pembahasan teknis lebih lanjut.

Jika pembahasan berlanjut, fokus berikutnya adalah merumuskan model pembiayaan yang tidak hanya mudah diakses, tetapi juga memiliki dasar kelayakan usaha, tata kelola serta perhitungan risiko yang jelas bagi petani maupun lembaga pembiayaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *