KALBAR | SUARAHAM — Aktivitas “Bakti TNI” di Rumah Adat Panca, Desa Pengadang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Sabtu (2/5/2026), tak sekadar kerja bakti rutin.
Di balik aksi bersih-bersih itu, terselip upaya memperkuat pengaruh aparat di kawasan perbatasan yang selama ini rawan secara sosial dan kultural.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.30 WIB ini melibatkan unsur TNI, Polri, dan warga setempat.
Mereka membersihkan serta menata kawasan Rumah Adat Panca simbol identitas budaya masyarakat lokal yang berada di wilayah strategis perbatasan RI–Malaysia.
Aksi tersebut merupakan bagian dari program pembinaan teritorial Satgas Pamtas RI–Malaysia dari Batalyon Arhanud I Kostrad.
Program ini secara formal diklaim sebagai upaya menjaga lingkungan dan mempererat hubungan dengan masyarakat, namun juga tak lepas dari kepentingan stabilitas keamanan di kawasan perbatasan.
Sejumlah aparat terlihat hadir, di antaranya Sekretaris Desa Pengadang Cristian, Aiptu Andriyanto dari Polsek Sekayam, serta Sertu Ebim Krisna dari Pos Koki III Balai Karangan.
Kehadiran mereka menegaskan keterlibatan penuh aparat dalam kegiatan yang dikemas sebagai aksi sosial tersebut.
Fokus kegiatan tak hanya membersihkan area Panca Puntu Mang Pihit, tetapi juga melakukan pengecatan ulang pagar.
Upaya ini ditujukan untuk memperindah kawasan, sekaligus menjaga simbol budaya tetap terlihat terawat di tengah tekanan modernisasi dan dinamika wilayah perbatasan.
Namun, kegiatan seperti ini juga memunculkan pertanyaan: sejauh mana bakti sosial benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat, dan bukan sekadar agenda seremonial yang berulang tanpa solusi jangka panjang?
Kapolsek Sekayam, AKP Dr. Sutikno, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk kolaborasi harmonis antara aparat dan masyarakat.
Ia menekankan pentingnya gotong royong dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah perbatasan.
“Ini bukan sekadar bersih-bersih, tetapi upaya membangun kedekatan emosional antara aparat dan masyarakat,” ujarnya.
Meski demikian, keterlibatan warga memang terlihat cukup tinggi. Partisipasi ini kerap dijadikan indikator keberhasilan pendekatan aparat.
Untuk menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif, meski efektivitasnya dalam menyelesaikan persoalan struktural masih menjadi tanda tanya.
Selama kegiatan berlangsung, situasi dilaporkan aman dan tertib. Namun di luar itu, tantangan kawasan perbatasan mulai dari ekonomi, akses layanan.
Hingga perlindungan budaya masih membutuhkan langkah yang lebih substansial daripada sekadar kegiatan simbolik.
Bakti TNI di Rumah Adat Panca pada akhirnya menjadi potret klasik: antara semangat gotong royong yang patut diapresiasi dan kebutuhan akan kebijakan nyata yang lebih menyentuh akar persoalan masyarakat perbatasan.











