banner 400x130
RAGAM  

Puluhan Tahun Hilang Identitas, Indra Berjuang Kembali ke Indonesia

banner 400x130

RAGAM I SUARAHAM — Praktik adopsi anak Indonesia ke Belanda pada era 1970–1980 kembali disorot.

Ribuan anak diduga dibawa ke luar negeri melalui proses yang tidak sah, bahkan mengarah pada praktik penculikan terselubung.

Kini, sebagian dari mereka mulai menuntut haknya, termasuk mengembalikan identitas dan status kewarganegaraan Indonesia.

Salah satu kisah datang dari Indra Jaya Laksana. Ia lahir di Bandung pada 1982, namun tak lama kemudian dibawa ke Belanda untuk diadopsi.

Nama aslinya dalam dokumen kelahiran tercatat sebagai Scipio Jean Luc.

Bertahun-tahun kemudian, ia mengganti namanya sebagai bentuk upaya merebut kembali jati diri yang hilang.

Secara hukum, Indra terdaftar sebagai warga negara Belanda. Namun, ia menolak identitas tersebut.

Baginya, status administratif tidak mampu menghapus kenyataan bahwa ia adalah anak Indonesia yang dipisahkan dari akar asalnya sejak bayi.

“Identitas saya dihapus seluruhnya. Hubungan dengan keluarga asli diputus,” ujarnya kepada BBC News Indonesia pada April 2026.

Seiring bertambah usia, Indra mulai menyadari bahwa apa yang dialaminya bukan sekadar adopsi, melainkan dugaan penculikan yang dilegalkan.

Kebenaran itu pertama kali ia dengar saat berusia 10 tahun. Ayah angkatnya mengungkap bahwa ia bukan anak kandung dan berasal dari Indonesia.

Pengakuan itu mengguncang hidupnya. Ia mengaku ketakutan dan merasa seluruh realitas yang ia kenal selama ini runtuh.

Sejak saat itu, Indra hidup dalam kebingungan identitas. Ia tumbuh bersama keluarga angkatnya di Belanda, namun merasakan ikatan yang tidak utuh.

Di sisi lain, ia juga menghadapi stigma sosial terhadap anak adopsi yang kerap dipandang rendah.

Harapan sempat muncul saat ia berkunjung ke Indonesia pada awal 1990-an.

Meski awalnya merasa asing, ia perlahan merasakan kedekatan dengan lingkungan dan anak-anak seusianya.

Ia bahkan merasa bahwa Indonesia adalah tempat yang seharusnya menjadi rumahnya.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, Indra berupaya menelusuri asal-usulnya dan memperjuangkan kembali identitasnya sebagai warga Indonesia.

Kisahnya menjadi pengingat bahwa di balik praktik adopsi lintas negara, tersimpan kemungkinan pelanggaran serius yang belum sepenuhnya terungkap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *