INTERNASIONAL I SUARAHAM – Jepang Siaga 24 Jam, Yen Terancam Bergejolak Jelang Keputusan BOJ
Pemerintah Jepang menyatakan status siaga penuh selama 24 jam untuk mengantisipasi gejolak di pasar valuta asing, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan terhadap nilai tukar yen.
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menegaskan bahwa otoritas tidak akan ragu mengambil langkah jika volatilitas dianggap berlebihan.
“Kami siaga 24 jam untuk merespons pergerakan pasar,” ujarnya dalam konferensi pers yang dilaporkan Reuters, Selasa (28/4/2026).
Langkah ini mencerminkan kekhawatiran pemerintah Jepang terhadap fluktuasi yen yang semakin sensitif terhadap dinamika global, termasuk kebijakan moneter negara maju dan pergerakan harga komoditas.
Di saat bersamaan, perhatian pelaku pasar tertuju pada keputusan suku bunga Bank of Japan (BOJ) yang dijadwalkan diumumkan hari ini.
Investor menanti sinyal dari Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, terkait arah kebijakan moneter ke depan.
Meskipun mayoritas analis memperkirakan suku bunga akan tetap dipertahankan, pasar lebih fokus pada nada pernyataan BOJ apakah akan mengarah lebih agresif (hawkish) di tengah tekanan inflasi global dan ketidakpastian geopolitik.
Situasi semakin kompleks karena Jepang akan memasuki periode libur panjang Golden Week mulai Rabu.
Periode ini biasanya ditandai dengan menurunnya likuiditas pasar, yang dapat memperbesar risiko lonjakan volatilitas nilai tukar.
Katayama memastikan pemerintah tetap waspada, termasuk saat dirinya menghadiri forum Asian Development Bank (ADB) akhir pekan ini.
Selain faktor domestik, Jepang juga mencermati dampak fluktuasi harga minyak mentah global yang dinilai turut memengaruhi pergerakan yen.
Dengan kombinasi tekanan eksternal, momentum kebijakan BOJ, dan rendahnya likuiditas selama libur panjang, pasar valuta asing Jepang kini berada dalam fase rawan di mana setiap sinyal kebijakan dapat memicu pergerakan tajam.











