INTERNASIONAL I SUARAHAM — Gencatan senjata yang seharusnya menjadi jalan napas bagi warga di Jalur Gaza justru dipenuhi catatan kelam.
Kantor Media Pemerintah di Gaza mengungkap, sepanjang April 2026, pasukan Israel diduga melakukan sedikitnya 377 pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah disepakati.
Data tersebut bukan sekadar angka. Di baliknya, ada 111 nyawa melayang dan 376 orang lainnya terluka menandai bahwa gencatan senjata di lapangan jauh dari kata “tenang”.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah kesepakatan damai benar-benar dijalankan, atau hanya menjadi formalitas tanpa makna?
Dalam pernyataan resminya pada Kamis (30/4), otoritas Gaza menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius dan terang-terangan.
Mereka menilai langkah itu tidak hanya merusak komitmen yang ada, tetapi juga memperparah krisis kemanusiaan yang sudah berada di titik kritis.
Lebih jauh, laporan yang turut disorot oleh Middle East Monitor ini membuka fakta lain yang tak kalah mengkhawatirkan: bantuan kemanusiaan yang seharusnya menjadi penyelamat justru tersendat.
Sepanjang April, hanya 4.503 truk bantuan yang diizinkan masuk ke Gaza—jauh dari target 18.000 truk yang telah disepakati.
Artinya, hanya sekitar seperempat kebutuhan yang terpenuhi. Kondisi ini memperlihatkan jurang lebar antara komitmen di atas kertas dan realitas di lapangan.
Situasi lebih parah terjadi pada pasokan bahan bakar. Dari rencana 1.500 truk, hanya 187 yang berhasil masuk.
Kekurangan drastis ini langsung menghantam layanan vital: rumah sakit terancam lumpuh, distribusi air bersih terganggu, dan listrik semakin tidak stabil.
Tak hanya itu, mobilitas warga sipil juga nyaris tercekik. Sepanjang sebulan, hanya 1.567 orang yang bisa keluar-masuk wilayah tersebut jauh di bawah target 6.000 orang.
Angka ini menjadi gambaran nyata bagaimana akses kemanusiaan masih terkunci rapat.
Kantor Media Gaza menegaskan, pembatasan ini berdampak langsung pada kelompok paling rentan: pasien yang membutuhkan perawatan di luar negeri, mahasiswa yang tertahan, hingga warga dengan kebutuhan darurat lainnya.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, gencatan senjata bukan lagi solusi melainkan ilusi yang menutup realitas krisis yang semakin dalam.











