BONE | SUARAHAM — Penanganan dugaan penyelundupan BBM bersubsidi jenis solar di Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, menuai sorotan tajam dari kalangan aktivis.
Mereka menilai aparat penegak hukum belum menunjukkan keberanian membongkar aktor utama di balik praktik ilegal yang diduga telah berlangsung lama dan terorganisir.
Aktivis lokal, Ardy Baso, menjadi salah satu suara paling vokal dalam mengkritik penanganan kasus ini. Ia menegaskan bahwa peristiwa pengungkapan pada 27 April lalu.
Hal tersebut memang sempat menghebohkan publik, terutama karena modus distribusi yang menggunakan jalur laut dengan pengangkutan jeriken solar subsidi melalui kapal.
Namun, menurutnya, fakta tersebut justru memperkuat dugaan bahwa praktik ini bukanlah kegiatan baru atau berskala kecil.
“Ini bukan kejadian pertama. Sudah lama masyarakat resah, terutama para pekerja rumput laut. Tapi yang selalu ditangkap itu-itu saja pelaku kecil. Sementara yang diduga sebagai pengendali tidak pernah tersentuh,” ujar Ardy.
Ia menilai pola distribusi yang rapi mulai dari pengumpulan solar subsidi, penyimpanan, hingga pengiriman lintas wilayah.
Hal itu menunjukkan adanya jaringan yang bekerja secara sistematis. Karena itu, ia mempertanyakan arah penegakan hukum yang dinilai hanya berhenti di lapangan.
“Kalau melihat pola yang berulang dan terorganisir seperti ini, tidak mungkin tidak ada dalangnya. Harusnya aparat tidak berhenti di pengecer atau pengangkut. Yang paling penting itu siapa penerima dan siapa yang mengendalikan distribusi ini,” tegasnya.
Ardy juga menyinggung dugaan adanya pembiaran atau bahkan keterlibatan oknum tertentu, mengingat praktik penyelundupan BBM di Bone disebut telah berlangsung lama tanpa penindakan yang menyentuh akar masalah.
“Wajar kalau masyarakat mulai berasumsi macam-macam. Karena praktik ini tidak pernah benar-benar hilang. Seolah ada yang dilindungi atau dibiarkan,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia mendesak aparat penegak hukum, khususnya jajaran Krimsus Polda Sulsel, untuk melakukan penyelidikan menyeluruh dan transparan.
Menurutnya, pengungkapan jaringan hingga ke level atas menjadi kunci untuk menghentikan praktik ilegal tersebut secara permanen.
“Jangan hanya memutus rantai kecil di bawah. Ardi sang pemilik Gudang harus di tangkap, Kalau kepala jaringannya tidak disentuh, praktik ini akan terus berulang,” katanya.
Sorotan aktivis ini muncul di tengah minimnya keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait perkembangan kasus.
Hingga kini, belum ada penjelasan terbuka mengenai siapa saja yang telah ditetapkan sebagai tersangka maupun bagaimana arah penyidikan selanjutnya.
Kondisi ini semakin memperkuat desakan publik agar aparat tidak sekadar melakukan penindakan simbolik, tetapi benar-benar membongkar jaringan besar yang diduga mengendalikan distribusi solar ilegal di wilayah Bone.
Bagi kalangan aktivis, kasus ini bukan hanya soal pelanggaran hukum, tetapi juga menyangkut keadilan bagi masyarakat yang selama ini dirugikan akibat kelangkaan dan penyalahgunaan BBM bersubsidi.
“Kalau aparat serius, ini bisa diungkap sampai ke akar. Tapi kalau hanya berhenti di permukaan, kepercayaan publik yang jadi taruhannya,” tutup Ardy.











