banner 400x130

Boikot dan Kecaman Menguat, Israel Andalkan Mesin Propaganda Bernilai Triliunan

banner 400x130

INTERNASIONAL | SUARAHAMReputasi Israel di mata dunia disebut makin terpuruk akibat agresi militer dan dugaan genosida terhadap warga Jalur Gaza.

Di tengah gelombang kecaman global yang terus membesar, pemerintah Israel kini disebut menyiapkan dana jumbo hingga US$730 juta atau sekitar Rp12,6 triliun untuk membiayai proyek propaganda internasional demi memoles kembali citra mereka yang runtuh.

Laporan The Jerusalem Post yang dikutip Middle East Monitor mengungkapkan, anggaran program propaganda diplomasi Israel atau Hasbara bakal melonjak drastis hingga empat kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Angka tersebut memicu sorotan tajam karena terjadi di saat dunia internasional terus mengecam krisis kemanusiaan di Gaza.

Pada 2023, Israel tercatat menghabiskan sekitar US$150 juta atau Rp2,6 triliun untuk operasi propaganda global. Namun kini, lonjakan anggaran disebut mencapai hampir 20 kali lipat dibanding periode sebelum konflik Gaza memuncak.

Dana fantastis itu dimasukkan dalam anggaran nasional Israel yang disahkan Maret lalu dan akan disalurkan melalui direktorat diplomasi publik nasional, lembaga yang bertugas membentuk opini publik internasional agar lebih berpihak kepada Israel.

Langkah tersebut dinilai sebagai bukti bahwa Tel Aviv mulai panik menghadapi kehancuran citra mereka di panggung global. Berbagai survei internasional menunjukkan dukungan publik terhadap Israel terus anjlok, bahkan di negara sekutu utamanya, Amerika Serikat.

Hasil survei terbaru dari Pew Research Center pada April 2026 menunjukkan sebanyak 60 persen warga dewasa AS kini memiliki pandangan negatif terhadap Israel. Angka itu naik tajam dibanding tahun sebelumnya yang berada di level 53 persen.

Lebih mengejutkan lagi, hanya 32 persen warga AS yang masih memandang Israel secara positif. Penurunan drastis ini disebut sebagai salah satu titik terburuk dalam sejarah hubungan citra Israel dengan publik Amerika.

Gelombang penolakan itu juga meluas lintas kelompok politik. Sebanyak 80 persen pendukung Partai Demokrat dan independen pro-Demokrat kini memandang Israel secara negatif. Bahkan di kalangan Republikan muda berusia di bawah 50 tahun, mayoritas mulai berbalik arah dengan pandangan yang semakin kritis terhadap Israel.

Survei Gallup turut memperlihatkan tren serupa. Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, simpati publik Amerika terhadap Palestina disebut melampaui Israel. Sebanyak 41 persen responden menyatakan lebih bersimpati kepada Palestina, sementara hanya 36 persen yang menyatakan dukungan kepada Israel.

Lembaga kebijakan strategis Israel sendiri mulai mengakui adanya krisis serius. Institut Studi Keamanan Nasional memperingatkan bahwa Israel tengah menghadapi “krisis yang semakin dalam” di AS, terutama akibat merosotnya dukungan dari generasi muda, komunitas Demokrat, Republikan muda, hingga sebagian kelompok Yahudi Amerika.

Tak hanya tekanan opini publik, Israel juga disebut menghadapi isolasi diplomatik yang makin nyata. Sejumlah laporan menyoroti munculnya “boikot ekonomi senyap” di berbagai negara, di mana perusahaan, kampus, hingga organisasi masyarakat sipil mulai menjaga jarak dan mengurangi hubungan kerja sama dengan Israel.

Kondisi itu memperlihatkan bahwa perang opini kini menjadi medan baru yang tak kalah penting bagi Israel. Namun di tengah derasnya dokumentasi korban sipil dan kehancuran di Gaza yang tersebar luas di media sosial dunia, upaya propaganda bernilai triliunan rupiah itu dipandang banyak pihak tak akan mudah menghapus kemarahan publik internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *