banner 400x130

BOJ Alarm Bahaya, Inflasi Jepang Diprediksi Tembus 3% Dua Tahun Berturut-turut

banner 400x130

INTERNASIONAL | SUARAHAM — Bank of Japan (BOJ) memberi sinyal serius: tekanan inflasi di Jepang berpotensi bertahan tinggi dan bahkan melampaui target dalam waktu lebih lama dari yang diharapkan.

Dalam skenario risiko terbarunya, bank sentral memperkirakan inflasi inti bisa menyentuh kisaran 3% selama dua tahun berturut-turut—angka yang jelas melampaui target resmi 2%.

Proyeksi ini bukan tanpa alasan. BOJ secara eksplisit mendasarkan skenario tersebut pada kombinasi faktor eksternal yang membebani ekonomi, yakni lonjakan harga energi global dan pelemahan nilai tukar yen.

Jika kedua faktor ini terus berlanjut, Jepang berisiko menghadapi tekanan harga yang lebih persisten dibanding perkiraan awal.

Mengacu pada laporan yang dikutip Reuters, dalam skenario dasar yang dirilis sebelumnya, BOJ sebenarnya masih cukup optimistis.

Inflasi inti diproyeksikan berada di level 2,8% pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2027, lalu turun ke 2,3% pada tahun berikutnya—relatif lebih dekat dengan target.

Namun gambaran berubah tajam dalam skenario risiko. BOJ mengasumsikan harga minyak mentah bertahan tinggi di kisaran US$105 per barel.

Hingga akhir tahun, yen terdepresiasi hingga 10%, serta pasar saham terkoreksi dalam hingga 20%. Kombinasi ini menciptakan tekanan berlapis yang mendorong inflasi lebih agresif.

Dalam kondisi tersebut, inflasi inti diperkirakan melonjak ke 3,1% pada tahun fiskal 2026 dan tetap tinggi di 3,0% pada 2027, sebelum akhirnya melandai ke 2,3% pada 2028.

Artinya, Jepang bisa menghadapi periode inflasi “di atas normal” yang tidak hanya sementara, tetapi cukup panjang untuk mengubah ekspektasi pasar.

BOJ sendiri menggarisbawahi poin krusial: lonjakan inflasi di kisaran 3% selama dua tahun berturut-turut berpotensi mengerek ekspektasi inflasi jangka menengah hingga panjang.

Ini penting, karena perubahan ekspektasi sering kali menjadi pemicu siklus inflasi yang lebih sulit dikendalikan.

Situasi ini menempatkan BOJ dalam dilema kebijakan. Di satu sisi, mereka ingin menjaga stabilitas harga sesuai target 2%. Di sisi lain, tekanan eksternal seperti energi dan nilai tukar berada di luar kendali langsung kebijakan moneter.

Jika skenario risiko ini benar-benar terjadi, Jepang berpotensi memasuki fase baru: dari ekonomi yang lama dikenal dengan inflasi rendah, menjadi ekonomi dengan tekanan harga yang lebih “lengket”.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah inflasi akan naik, tetapi seberapa lama BOJ mampu menahannya agar tidak keluar jalur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *