banner 400x130
METRO  

Munafri Dorong May Day 2026 Jadi Momentum Nyata Kesejahteraan Buruh

banner 400x130

MAKASSAR I SUARAHAM — Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menekankan bahwa peringatan Hari Buruh Internasional 2026 tidak boleh sekadar seremonial, tetapi harus menjadi momentum nyata untuk mendorong peningkatan kesejahteraan pekerja.

Penegasan itu disampaikan saat ia menerima audiensi Asosiasi Pengusaha Indonesia bersama sejumlah serikat buruh di Balai Kota Makassar, Selasa (28/4/2026). Pertemuan tersebut menjadi bagian dari persiapan agenda peringatan May Day di kota ini.

Munafri yang akrab disapa Appi mengungkapkan, Pemerintah Kota Makassar telah menyiapkan konsep perayaan bertajuk May Day Fest yang akan dipusatkan di Lapangan Karebosi. Ia menyebut, perayaan tahun ini dirancang lebih terbuka, meriah, dan melibatkan berbagai pihak.

“May Day tahun ini menjadi perhatian serius. Kita ingin perayaannya tidak hanya ramai, tapi juga punya makna bagi pekerja,” ujarnya.

Pemkot, lanjutnya, akan menyediakan fasilitas penuh untuk mendukung kegiatan, mulai dari sarana hingga pengamanan.

Koordinasi juga telah dilakukan dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah guna memastikan acara berjalan aman dan tertib.

Namun di balik rencana perayaan yang meriah, ada pesan yang lebih dalam: pemerintah ingin menggeser wajah May Day dari sekadar aksi jalanan menjadi ruang kolaborasi antara buruh, pengusaha, dan pemerintah.

Munafri bahkan meminta setiap organisasi buruh bertanggung jawab atas anggotanya, termasuk menjaga ketertiban dan menggunakan atribut resmi agar mudah diidentifikasi selama kegiatan berlangsung.

Ia juga mendorong peran aktif pihak pengusaha untuk turut mendukung kelancaran acara, termasuk membantu penyediaan kebutuhan dasar peserta seperti konsumsi dan minuman. “Ini ruang bersama, jadi semua pihak harus ambil bagian,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia, Andi Malanti, mengapresiasi keterbukaan pemerintah kota yang memberi ruang dialog bagi pekerja.

Menurutnya, peringatan May Day memang bagian dari gerakan global buruh. Namun, pendekatan yang lebih dialogis dinilai bisa menjadi alternatif yang lebih konstruktif dibanding sekadar aksi turun ke jalan.

“Kalau ada ruang dialog terbuka, buruh bisa menyampaikan aspirasi langsung. Itu lebih efektif,” ujarnya.
Meski begitu, ia tidak menampik bahwa sebagian serikat pekerja tetap akan menggelar aksi. Hal tersebut disebut sebagai bagian dari dinamika perjuangan buruh yang selama ini masih menghadapi berbagai persoalan klasik, terutama terkait kesejahteraan.

Di sisi lain, ia menyoroti pentingnya penyamaan persepsi antara buruh, pengusaha, dan pemerintah. Selama ini, perbedaan pandangan dinilai masih sering menjadi hambatan dalam penyelesaian masalah ketenagakerjaan.

Karena itu, ia mendorong adanya forum dialog rutin serta optimalisasi “desk ketenagakerjaan” sebagai saluran pengaduan dan penegakan hukum di sektor ini.

“Kalau mekanisme ini berjalan efektif, banyak persoalan bisa selesai tanpa harus selalu berujung demonstrasi,” katanya.

Pernyataan kedua pihak ini menunjukkan satu benang merah: peringatan May Day di Makassar mulai diarahkan tidak hanya sebagai panggung ekspresi, tetapi juga sebagai arena negosiasi dan kolaborasi untuk membangun hubungan industrial yang lebih adil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *