banner 600x130
DAERAH  

Pasien Meninggal Usai Operasi Caesar, Jangan Jadikan SOP Tameng! Direktur RSUD Anwar Makkatutu Didesak Buka Fakta

BANTAENG | SUARAHAM — Kabar meninggalnya seorang pasien setelah menjalani operasi caesar di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Anwar Makkatutu, Kabupaten Bantaeng, sempat memunculkan dugaan adanya malapraktik.

Menanggapi informasi tersebut, pihak rumah sakit mengambil langkah dengan mempertemukan keluarga pasien, dokter, dan jajaran terkait untuk memberikan penjelasan mengenai penanganan medis yang telah dilakukan.

Pertemuan tersebut berlangsung di ruang kerja Direktur RSUD Anwar Makkatutu, dr. Yusril, M.Kes., pada Rabu (13/10/2026), dengan dihadiri sejumlah awak media.

Pertemuan ini menjadi ruang klarifikasi atas informasi yang beredar sekaligus upaya menjelaskan kronologi penanganan pasien berdasarkan keterangan dan rekam medis.

Dalam pertemuan itu, pihak keluarga pasien yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan menyampaikan apresiasi atas penjelasan yang diberikan oleh pihak rumah sakit.

Keluarga mengaku telah mendapatkan penjelasan melalui rekam medis dan menyatakan menerima keterangan tersebut.

“Kami sangat berterima kasih karena semuanya sudah jelas dari apa yang disampaikan melalui rekam medis. Mungkin memang sudah ajalnya. Tidak ada yang menyangka kejadian ini akan terjadi. Semua merupakan rahasia Allah SWT,” ungkap perwakilan keluarga.

Pernyataan keluarga tersebut menjadi bagian dari klarifikasi yang disampaikan dalam pertemuan.

Namun, penjelasan keluarga maupun pihak rumah sakit tetap perlu ditempatkan secara proporsional dalam pemberitaan, terutama karena menyangkut kematian pasien dan dugaan malapraktik yang sempat beredar.

Direktur: Penanganan Medis Mengacu pada SOP

Direktur RSUD Anwar Makkatutu, dr. Yusril, M.Kes., menegaskan bahwa pihaknya menjalankan pelayanan medis berdasarkan standar operasional prosedur (SOP) dan pembagian kewenangan masing-masing tenaga kesehatan.

Menurutnya, setiap tindakan medis harus melalui pertimbangan dan prosedur yang berlaku. Ia juga menyebut bahwa manajemen rumah sakit telah mengatur tanggung jawab serta kewenangan jajaran medis dan tenaga terkait.

“Kami tidak berani mengambil tindakan tanpa semuanya lengkap. Saya sebagai direktur memang berada di pucuk pimpinan, tetapi kami telah mengatur kinerja dan kewenangan masing-masing tenaga medis,” jelasnya.

Meski demikian, dalam kasus kematian pasien setelah tindakan operasi, penjelasan mengenai penerapan SOP perlu didukung dokumentasi dan evaluasi medis yang memadai.

Kepatuhan terhadap prosedur serta penyebab kematian merupakan dua hal yang perlu dinilai berdasarkan fakta dan pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, dugaan malapraktik tidak dapat langsung dinyatakan terbukti hanya berdasarkan kabar yang beredar.

Sebaliknya, pernyataan bahwa seluruh prosedur telah dijalankan juga perlu didukung hasil evaluasi yang relevan apabila masih terdapat pertanyaan mengenai penanganan pasien.

Pelayanan Prima dan Keselamatan Pasien Jadi Sorotan

Dalam keterangannya, dr. Yusril mengatakan bahwa dirinya berupaya menjalankan amanah untuk menjadikan RSUD Anwar Makkatutu sebagai rumah sakit profesional yang memberikan pelayanan kepada seluruh lapisan masyarakat.

Ia menyebut arahan yang diterimanya menekankan pentingnya profesionalisme dan pelayanan tanpa membeda-bedakan pasien.

Yusril juga menegaskan bahwa keselamatan pasien harus menjadi prioritas dalam pelayanan rumah sakit.

“Nyawa pasien harus diutamakan. Administrasi boleh menyusul,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan komitmen yang disampaikan manajemen rumah sakit. Namun, bagi masyarakat, komitmen pelayanan prima idealnya juga tercermin dalam keterbukaan informasi, komunikasi yang jelas kepada keluarga pasien, serta evaluasi menyeluruh ketika terjadi peristiwa medis yang berujung pada kematian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *