banner 600x130
RAGAM  

Perang Kelompok Mengancam Keselamatan Warga, MATADOR Dorong Kolaborasi dengan Polda Sulsel

MAKASSAR | SUARAHAM — Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026 dimanfaatkan organisasi Makassar Tidak Kendor (MATADOR) untuk menyerukan persatuan, perdamaian, dan kepedulian bersama dalam menghadapi persoalan kriminalitas jalanan, geng motor, hingga perang kelompok yang masih menjadi keresahan masyarakat di Kota Makassar.

Karaeng Emba menegaskan, peringatan Sumpah Pemuda tidak boleh sekadar menjadi seremoni tahunan. Momentum ini harus dijadikan ruang refleksi bagi seluruh elemen masyarakat, khususnya pemuda, mahasiswa, dan pelajar, untuk memperkuat persaudaraan serta mengambil peran nyata dalam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.

Menurutnya, maraknya aksi kriminal jalanan, aktivitas geng motor, dan konflik antarkelompok berpotensi mengganggu ketenteraman masyarakat. Situasi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran warga untuk beraktivitas pada malam hari.

“Jangan sampai masyarakat terus dihantui rasa takut akibat aksi kriminal jalanan dan perang kelompok. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman dan damai,” tegas Karaeng Emba.

Ia menekankan, persoalan perang kelompok tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, terlebih jika berpotensi menimbulkan korban jiwa dan memperluas konflik antarsesama warga.

Sebagai putra daerah Sulawesi Selatan, lanjutnya, seluruh elemen masyarakat harus berani mengambil sikap untuk menghentikan permusuhan, menekan ego masing-masing, serta membangun kesadaran bahwa perdamaian merupakan kepentingan bersama.

MATADOR Siap Kawal Program Kapolda Sulsel

Selain menyerukan perdamaian, MATADOR menyatakan komitmennya untuk mendukung dan mengawal program Kapolda Sulawesi Selatan yang mengusung nilai EWAKO, EMPATI, WASPADA, ADIL, dan KOLABORASI.

Karaeng Emba menyebut MATADOR siap mengambil bagian dalam menyosialisasikan program tersebut kepada masyarakat. Ia berharap kolaborasi antara kepolisian, organisasi kemasyarakatan, pemuda, mahasiswa, dan berbagai unsur masyarakat dapat diperkuat untuk mencegah munculnya potensi tindak kriminalitas.

Menurutnya, upaya menjaga keamanan tidak cukup hanya mengandalkan tindakan penegakan hukum. Diperlukan pula pendekatan persuasif, komunikasi antarkelompok, edukasi, serta keterlibatan masyarakat dalam membangun kesadaran bersama.

“Ini bukan sekadar pernyataan di ruang publik, tetapi bentuk kepedulian dan kecintaan kami terhadap Makassar dan Sulawesi Selatan. Kami ingin masyarakat kembali menyatu, mempererat persaudaraan, dan menjauhkan diri dari segala bentuk perpecahan,” ujarnya.

Koordinasi dengan Polda Sulsel, Dorong Perdamaian Kelompok Bertikai

Karaeng Emba juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Kapolda Sulawesi Selatan dan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sulsel beberapa hari sebelumnya, dalam rangka mendorong upaya perdamaian kelompok yang bertikai, yakni JORJORAN dan LONNER (ABLAM), di Polda Sulsel.

Menurutnya, langkah komunikasi dan perdamaian tersebut diharapkan menjadi pintu masuk untuk membangun penyelesaian konflik yang lebih berkelanjutan, bukan sekadar meredakan ketegangan untuk sementara waktu.

MATADOR berencana menyusun agenda kolaborasi bersama pihak terkait untuk mendorong program pencegahan tindak kriminalitas, mengantisipasi potensi bentrokan, serta membangun kesadaran di kalangan pemuda agar tidak mudah terprovokasi.

Namun, upaya perdamaian tersebut perlu diikuti komitmen nyata seluruh pihak. Kelompok yang pernah terlibat konflik diharapkan menjaga kesepakatan, menghindari aksi balas dendam, dan tidak kembali melakukan tindakan yang dapat mengancam keselamatan masyarakat.

Karaeng Emba berharap aparat penegak hukum dan seluruh elemen masyarakat terus membangun komunikasi serta mengambil langkah konkret agar persoalan kriminalitas jalanan dan perang kelompok dapat ditangani secara konsisten.

Sumpah Pemuda Harus Menjadi Momentum Perubahan

Menutup pernyataannya, Karaeng Emba mengajak seluruh pemuda, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat Sulawesi Selatan untuk mengesampingkan ego pribadi maupun kelompok demi kepentingan yang lebih besar.

Ia menegaskan bahwa perbedaan identitas dan kelompok tidak seharusnya menjadi alasan untuk bermusuhan, apalagi sampai memicu kekerasan yang merugikan masyarakat luas.

“Di momentum Sumpah Pemuda ini, mari kita satukan tekad, perkuat solidaritas, dan hentikan permusuhan. Jangan biarkan ego kelompok mengalahkan rasa kemanusiaan. Kita ingin Sulawesi Selatan menjadi daerah yang aman, damai, dan menjunjung tinggi nilai empati, kewaspadaan, keadilan, serta kolaborasi,” tutupnya.

MATADOR berharap peringatan Sumpah Pemuda 2026 menjadi momentum perubahan nyata, sehingga semangat persatuan tidak berhenti pada slogan, melainkan diwujudkan melalui tindakan bersama untuk menciptakan Makassar yang lebih aman dan kondusif bagi seluruh masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *