INTERNASIONAL | SUARAHAM — Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat melaporkan pencegatan kapal tanker minyak yang diduga menuju pelabuhan Iran. Insiden terbaru ini memperpanjang rangkaian intersepsi di tengah kebijakan pembatasan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
United States Central Command (CENTCOM) dalam pernyataan resmi, Senin (27/4), menyebut pencegatan dilakukan oleh kapal perusak berpeluru kendali USS Rafael Peralta (DDG-115) terhadap tanker M/T Stream yang disebut berupaya menuju pelabuhan Iran.
CENTCOM menegaskan tindakan tersebut merupakan bagian dari penegakan kebijakan blokade terhadap aktivitas pelayaran yang dianggap mendukung ekspor minyak Iran. Namun, otoritas militer AS tidak merinci lokasi pasti kejadian maupun metode identifikasi tujuan kapal tersebut.
Berdasarkan data pelacakan maritim, M/T Stream merupakan kapal tanker pengangkut minyak mentah. Informasi ini diperoleh dari platform pemantauan pelayaran seperti MarineTraffic, meski detail rute terakhir kapal masih terbatas.
Insiden ini bukan yang pertama. Dalam sepekan terakhir, militer AS juga dilaporkan mencegat tiga kapal tanker berbendera Iran di sejumlah titik perairan Asia, termasuk di sekitar jalur pelayaran dekat Indonesia. Kapal-kapal tersebut kemudian dialihkan dari rute awalnya yang melintasi wilayah dekat India, Malaysia, dan Sri Lanka.
Salah satu kapal yang dicegat adalah supertanker Deep Sea yang membawa sebagian muatan minyak mentah dan terakhir terlacak di perairan lepas pantai Malaysia. Selain itu, kapal Sevin dengan kapasitas sekitar satu juta barel juga dilaporkan dicegat saat mengangkut sekitar 65 persen muatan.
Sementara itu, supertanker Dorena yang mengangkut hingga dua juta barel minyak mentah dilaporkan dalam kondisi penuh saat intersepsi, dengan posisi terakhir terdeteksi di perairan selatan India beberapa hari sebelumnya.
Rangkaian pencegatan ini berlangsung di tengah ketidakpastian proses diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Negosiasi putaran kedua yang diharapkan meredakan ketegangan justru belum menunjukkan kemajuan signifikan.
Iran, melalui jalur diplomatik yang dimediasi Pakistan, telah mengajukan proposal gencatan senjata dengan sejumlah tuntutan baru. Salah satu poin utama adalah desakan agar blokade di Selat Hormuz dihentikan demi menjamin kelancaran jalur perdagangan global.
Namun, respons dari kubu Washington dilaporkan belum positif. Donald Trump disebut tidak menyambut baik proposal tersebut karena tidak mencakup penghentian program pengayaan nuklir Iran—isu utama yang selama ini menjadi sumber konflik kedua negara.
Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya berlangsung di meja perundingan, tetapi juga di jalur distribusi energi global. Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial yang mencerminkan tarik-menarik kepentingan geopolitik antara kekuatan besar dunia.











