banner 400x130
RAGAM  

Rupiah Melemah Hingga Rp.17.899, SEMMI Sulsel Sebut Ekonomi Nasional Sedang Darurat

banner 400x130

MAKASSAR I SUARAHAM — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali berada dalam tekanan berat dan nyaris menyentuh angka psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Kondisi yang kini berada di kisaran Rp17.899 tersebut memicu kekhawatiran luas terhadap stabilitas ekonomi nasional, terutama di tengah meningkatnya tekanan harga kebutuhan pokok dan melemahnya daya beli masyarakat.

Situasi ini mendapat sorotan keras dari Pengurus Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Sulawesi Selatan.

Mereka menilai pelemahan rupiah bukan lagi sekadar gejolak biasa di pasar keuangan, melainkan sinyal serius bahwa fondasi ekonomi nasional sedang menghadapi tekanan besar.

Ketua Bidang Ekonomi dan UMKM PW SEMMI Sulsel, Idul Agustin, menegaskan bahwa pemerintah dan Bank Indonesia tidak boleh bersikap santai menghadapi kondisi tersebut.

Menurutnya, pelemahan rupiah yang terus mendekati level Rp18 ribu merupakan alarm bahaya yang bisa berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat kecil.

“Ketika rupiah terus melemah hingga hampir menyentuh Rp18 ribu per dolar AS, maka ini bukan lagi persoalan fluktuasi biasa. Pemerintah dan Bank Indonesia harus segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan stabilitas ekonomi nasional,” tegas Idul Agustin.

Ia menjelaskan, dampak pelemahan rupiah akan sangat dirasakan masyarakat, mulai dari melonjaknya harga barang impor, naiknya biaya produksi industri, ancaman kenaikan harga pangan dan energi, hingga tekanan berat terhadap pelaku UMKM yang selama ini menjadi penopang ekonomi rakyat.

SEMMI Sulsel juga mengingatkan pemerintah agar tidak menghamburkan anggaran negara di tengah situasi ekonomi yang sedang tidak stabil.

Belanja negara, menurut mereka, harus diarahkan sepenuhnya pada program prioritas yang menyentuh kebutuhan masyarakat dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

“Jangan sampai rakyat dipaksa menghadapi kenaikan harga dan tekanan ekonomi, sementara anggaran negara justru habis untuk program yang tidak produktif. Hari ini masyarakat membutuhkan stabilitas harga, perlindungan ekonomi, dan kepastian daya beli,” lanjutnya.

Selain menyoroti pemerintah, SEMMI Sulsel turut mendesak Bank Indonesia agar lebih agresif menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan membangun kembali kepercayaan pasar terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

Mereka menilai koordinasi pemerintah dan BI sejauh ini harus diperkuat agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam.

Idul Agustin menilai ketergantungan Indonesia terhadap impor menjadi salah satu faktor yang membuat ekonomi nasional rentan ketika rupiah melemah.

Karena itu, pemerintah diminta memperkuat sektor produksi dalam negeri, memperbaiki ketahanan pangan dan energi, serta memberikan perlindungan nyata terhadap pelaku UMKM.

“Kita tidak boleh terus bergantung pada situasi global. Pemerintah harus memperkuat industri nasional, menjaga stabilitas pangan dan energi, serta memastikan UMKM mendapat perlindungan serius sebagai tulang punggung ekonomi rakyat,” ujarnya.

SEMMI Sulsel menegaskan bahwa pelemahan rupiah hingga berada di level Rp17.899 per dolar AS harus menjadi bahan evaluasi besar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

Mereka meminta pemerintah segera menghadirkan langkah penyelamatan ekonomi yang lebih realistis, efisien, dan benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat luas sebelum tekanan ekonomi semakin membebani masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *