banner 400x130

Konsolidasi di Meja Santai, ABPEDNAS Kaltim Bahas Program Berdampak Langsung

banner 400x130

SAMARINDA I SUARAHAM — Di balik suasana santai Warung Masakan Banjar, Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional (ABPEDNAS) Kalimantan Timur justru menggelar konsolidasi serius.

Pertemuan yang dikemas dalam silaturahmi ini menjadi ruang merumuskan arah strategis organisasi ke depan.

Ketua DPD ABPEDNAS Kaltim, Drs. H. Mugeni, M.Si, bersama Sekretaris Samson George, Penasehat Hesruddin Gafar, Jantje Maengkom, S.Sos., MM, serta jajaran pengurus lainnya hadir dalam pertemuan tersebut.

Meski berlangsung dalam balutan suasana kekeluargaan, diskusi yang terjadi jauh dari kesan basa-basi.

Para pengurus langsung menyoroti kebutuhan mendesak desa, mulai dari peningkatan kapasitas aparatur hingga problem klasik pengelolaan keuangan desa yang masih membutuhkan pendampingan serius.

“Silaturahmi seperti ini penting. Santai, tapi substansinya harus tajam. ABPEDNAS tidak boleh sekadar ada, tapi harus benar-benar berdampak,” tegas Mugeni.

Isu penguatan peran organisasi menjadi salah satu fokus utama. ABPEDNAS Kaltim didorong untuk tampil lebih progresif dalam mengadvokasi kepentingan desa, termasuk membangun sinergi yang lebih konkret dengan pemerintah provinsi.

Tak hanya itu, pengurus juga menyinggung perlunya program kerja yang tidak berhenti di tataran wacana.

Evaluasi terhadap kinerja organisasi sebelumnya menjadi bagian dari pembahasan, sebagai pijakan untuk menyusun agenda yang lebih terukur sepanjang 2026.

Sekretaris DPD ABPEDNAS Kaltim, Samson George, menegaskan bahwa hasil pertemuan ini bukan sekadar catatan diskusi.

“Ini awal konsolidasi. Semua poin akan kita matangkan dalam rapat kerja resmi agar tidak berhenti sebagai wacana,” ujarnya.

Pertemuan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa ABPEDNAS Kaltim mulai mengonsolidasikan kekuatan internalnya.

Di tengah tuntutan pembangunan desa yang semakin kompleks, organisasi ini ditantang untuk membuktikan perannya bukan hanya sebagai wadah, tetapi sebagai motor penggerak perubahan di tingkat desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *