KUKAR I SUARAHAM — Barisan 8 Center (B8C) DPW Kalimantan Timur bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kutai Kartanegara resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk mendorong pemberdayaan generasi muda melalui sektor pertanian, ketahanan pangan dan pengembangan sumber daya manusia.
Penandatanganan MoU ini menjadi bagian dari agenda B8C DPW Kaltim dalam membangun Gerakan Generasi Muda Tani sekaligus memperkuat visi Kaltim Food Resilience 2035.
Ketua DPW B8C Kaltim, Eka Marindra Lutviandi, S.Psi., mengatakan kerja sama dengan PCNU Kukar bukan sekadar program pelatihan pertanian.
“Kami tidak ingin generasi muda hanya menjadi penonton pembangunan pertanian. Kami ingin mereka menjadi pelaku. Mereka harus menguasai teknologi, memiliki kompetensi, mampu berproduksi dan mempunyai akses terhadap pasar,” ujar Eka.
Menurut Eka, model yang dibangun B8C bersama PCNU Kukar tidak berhenti pada pelatihan. PCNU menjadi salah satu basis untuk menggerakkan generasi muda NU, sementara B8C berperan sebagai orkestrator yang menghubungkan mereka dengan perguruan tinggi, lembaga vokasi, pemerintah, dunia usaha dan ekosistem pertanian.
Model tersebut dibangun melalui alur kaderisasi, pendidikan, vokasi, teknologi, produksi, hilirisasi hingga pasar.
“Jadi kita tidak ingin selesai pada pelatihan. Anak muda masuk dari basis organisasi, kemudian mendapatkan pengetahuan dari kampus, keterampilan dari lembaga vokasi, praktik di lahan, pendampingan teknis, teknologi pertanian dan akhirnya masuk ke rantai produksi serta pasar,” jelas Eka.
NU HARUS MENJADI SUBJEK PEMBANGUNAN
Eka menegaskan bahwa kerja sama ini juga memiliki makna yang lebih luas. Menurutnya, NU memiliki kekuatan sosial yang sangat besar dan tidak seharusnya hanya dipandang dari sisi keagamaan.
“Kami tidak ingin NU hanya dilihat sebagai organisasi keagamaan. NU mempunyai sumber daya manusia dan jaringan sosial yang sangat besar. Kekuatan sebesar ini harus ikut menjadi bagian dari pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia,” katanya.
Eka juga menyoroti momentum nasional ketika Presiden Prabowo Subianto menerima Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (KTA NU) pada penutupan Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur.
Bagi B8C, momentum tersebut ditangkap sebagai pesan besar mengenai posisi NU dalam kehidupan kebangsaan.
“Kami menangkap momentum pemberian KTA NU kepada Presiden sebagai sebuah pesan yang besar. Menurut kami, NU jangan lagi dipandang sebagai komoditas politik pada momentum tertentu. NU harus ditempatkan sebagai kekuatan masyarakat yang dilibatkan secara nyata dalam pembangunan nasional,” ujar Eka.
Menurutnya, keterlibatan NU dalam pembangunan tidak berarti membawa NU ke dalam politik praktis. Sebaliknya, NU dapat memberikan kontribusi nyata melalui pendidikan, ekonomi, ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja.
“Kalau generasi muda NU kita dorong menjadi petani modern, menguasai teknologi, menghasilkan pangan, membangun usaha dan menciptakan lapangan kerja, itu adalah bentuk nyata bagaimana NU ikut membangun Indonesia,” tegasnya.
DARI KUKAR UNTUK MODEL REGENERASI PETANI KALTIM
Kerja sama B8C dan PCNU Kukar menjadi bagian dari rangkaian kolaborasi yang sebelumnya telah dibangun B8C DPW Kaltim dengan Universitas Mulawarman, Fakultas Pertanian Unmul, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim serta BPVP Samarinda.
Dengan bergabungnya PCNU Kukar, B8C.Penulis.Nasrullah











