banner 600x130
RAGAM  

Dari Jejak Budaya Jadi Karya, HELO EAST Festival Rangkul Generasi Muda Kaltim

SAMARINDA I SUARAHAM – Festival di Samarinda menghadirkan pertunjukan seni, musik tradisional, talkshow, tenant budaya, hingga workshop sebagai ruang kreativitas generasi muda.

SAMARINDA – Jejak kebudayaan Kalimantan Timur tidak hanya menjadi warisan yang dikenang. Bagi generasi muda, kekayaan budaya juga dapat menjadi sumber inspirasi untuk berekspresi dan menghasilkan karya baru.

Semangat tersebut hadir melalui HELO EAST Festival 2026 yang digelar di Temindung Creative Hub, Samarinda, Sabtu (22/8/2026).

Mengusung tema “Jejak Budaya, Ruang Berkarya”, festival tersebut mempertemukan mahasiswa, generasi muda, komunitas, pegiat seni dan budaya, serta masyarakat dalam berbagai aktivitas kreatif.

Rangkaian kegiatan meliputi pertunjukan seni, musik tradisional, talkshow budaya, tenant budaya, hingga workshop kreatif.

HELO EAST Festival 2026 digagas Olli Chandra selaku Dewan Pembina HSA sekaligus pengusul program bersama Tiara Oktaviani Aras selaku Ketua Panitia dan Ketua HSA.

Pelaksanaan kegiatan turut melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Timur, khususnya Samarinda, serta komunitas dan pegiat seni budaya lokal.

Dari Mengenal Budaya hingga Menghasilkan Karya

Ketua Panitia HELO EAST Festival 2026, Tiara Oktaviani Aras, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari keinginan menghadirkan ruang bagi generasi muda untuk lebih dekat dengan kebudayaan Kalimantan Timur.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan dengan menjaga tradisi yang telah ada.

Generasi muda perlu diberikan kesempatan untuk mengenal, memahami, menginterpretasikan, serta mengembangkan budaya melalui pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman.

“Dari jejak yang sudah ada, kita bisa menemukan cara baru untuk bercerita, berekspresi, dan berkarya,” ujar Tiara.

Ia berharap generasi muda dapat menemukan hubungan antara kebudayaan dengan kehidupan dan kreativitas mereka saat ini.

Dengan pendekatan tersebut, budaya tidak hanya menjadi sesuatu yang dipelajari, tetapi juga dapat menjadi sumber gagasan untuk menghasilkan karya.

Festival Hadirkan Pengalaman Budaya

Dewan Pembina sekaligus Pengusul Program HELO EAST Festival 2026, Olli Chandra, mengatakan festival dirancang bukan sekadar sebagai pertunjukan budaya.

Peserta diberikan kesempatan untuk melihat, mendengar, berdiskusi, berinteraksi, hingga menghasilkan karya.

“Peserta tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga diajak memahami budaya melalui cerita, kemudian menuangkannya kembali dalam bentuk karya,” jelas Olli.

Menurutnya, pelestarian kebudayaan merupakan tanggung jawab bersama.

Karena itu, ruang kolaborasi yang mempertemukan generasi muda, komunitas, pemerintah, akademisi, pelaku budaya, dan industri kreatif perlu terus diperluas.

Hetifah Dorong Generasi Muda Ambil Peran

Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Kalimantan Timur, Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, M.PP., turut mendorong generasi muda agar aktif dalam pelestarian dan pengembangan budaya daerah.

Ia mengajak generasi muda Kaltim tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga mengambil peran dalam menjaga kekayaan budaya daerah.

Menurutnya, budaya merupakan bagian penting dari identitas masyarakat yang perlu terus dikenalkan kepada generasi berikutnya dengan pendekatan kreatif dan relevan.

Perkembangan teknologi dan media digital juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan kebudayaan Kalimantan Timur kepada masyarakat yang lebih luas.

Pertunjukan Seni Perkenalkan Budaya Kaltim

HELO EAST Festival 2026 menghadirkan sejumlah pertunjukan seni yang melibatkan generasi muda.

Di antaranya Tari Tega’ Siput Kena Tungu, Grup Musik Tradisional HIMA Etnomusikologi Universitas Mulawarman, serta Tari WAWEQ RAJIT dari Trisakerta Program Studi Tari, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman.

Pertunjukan tersebut menjadi ruang apresiasi sekaligus memperkenalkan beragam bentuk ekspresi seni kepada peserta.

Festival juga menghadirkan Tenant Budaya sebagai ruang interaksi antara peserta dengan pegiat budaya dan pelaku kreatif.

Melalui tenant tersebut, peserta dapat melihat lebih dekat berbagai karya, produk, serta aktivitas kreatif yang berkaitan dengan budaya Kalimantan Timur.

Budaya Dibawa ke Ruang Ekspresi Anak Muda

Rangkaian festival dilanjutkan dengan talkshow “Budaya sebagai Ruang Ekspresi Generasi Muda”.

Rohman Hidayat atau Putra Budaya Indonesia membawakan materi “Mengenal Kaltim Lewat Cerita Budaya”.

Sementara M. Ikhsanu Yaqin dari Mural Art Kaltim membawakan materi “Mengekspresikan Budaya Lewat Karya”.

Keduanya mengajak peserta melihat kebudayaan Kaltim melalui cerita sekaligus perspektif seni sebagai ruang ekspresi generasi muda.

Peserta kemudian mengikuti Workshop Zine Kaltim bersama Hadi Wardoyo.

Dalam kegiatan tersebut, peserta menuangkan pemahaman dan gagasan mengenai budaya Kalimantan Timur melalui tulisan, gambar, serta berbagai bentuk visual.

Workshop ini menjadi tahap ketika peserta tidak hanya mengenal budaya, tetapi mulai mengolahnya menjadi karya kreatif.

Menjembatani Budaya dan Generasi Z

Rangkaian HELO EAST Festival 2026 memperlihatkan bahwa pendekatan terhadap kebudayaan dapat dilakukan dengan cara yang lebih dekat dengan karakter generasi muda.

Pertunjukan seni menjadi ruang untuk mengenal tradisi. Talkshow membuka kesempatan bertukar gagasan. Sementara workshop memberikan ruang bagi peserta mengolah pengetahuan budaya menjadi karya.

Pelestarian budaya pun tidak harus selalu dilakukan melalui pendekatan konvensional. Kreativitas, teknologi, komunitas, dan ruang publik dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan kembali budaya lokal kepada generasi berikutnya.

Keterlibatan generasi muda juga membuka peluang bagi mereka untuk tidak sekadar menjadi penikmat budaya. Mereka dapat ikut menentukan bagaimana budaya Kalimantan Timur diceritakan dan diperkenalkan pada masa mendatang.

Dengan semakin banyak ruang kolaborasi, kebudayaan Kaltim diharapkan tetap memiliki tempat di tengah perubahan gaya hidup dan perkembangan industri kreatif.

HELO EAST Festival 2026 menjadi salah satu contoh bahwa merawat budaya dapat dimulai dengan memberi generasi muda kesempatan untuk mengenal, berdialog, kemudian menciptakan karya dari apa yang mereka pelajari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *