MAKASSAR I SUARAHAM — Pemadaman listrik bergilir kembali dikeluhkan masyarakat di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat. Kondisi tersebut menjadi sorotan GARIS Indonesia, yang menilai PLN perlu memberikan penjelasan terbuka mengenai penyebab gangguan dan kondisi sistem kelistrikan Sulselrabar.
GARIS Indonesia menilai pemadaman listrik tidak semestinya hanya dijelaskan melalui alasan teknis tanpa disertai informasi yang utuh mengenai kondisi pembangkit, ketersediaan cadangan daya, hingga langkah mitigasi yang disiapkan PLN.
Sorotan tersebut menguat karena persoalan pemadaman serupa disebut pernah terjadi pada 2023 dan kembali dirasakan masyarakat pada 2026.
Sebelumnya, PLN disebut menargetkan pemadaman bergilir tidak lagi terjadi hingga 5 September 2026. Namun, ketika masyarakat masih mengalami pemadaman setelah batas waktu tersebut, GARIS Indonesia mempertanyakan efektivitas langkah pemulihan dan mitigasi yang dilakukan PLN.
Apa yang sebenarnya terjadi pada sistem kelistrikan Sulselrabar?
Pertanyaan itu menjadi salah satu tuntutan GARIS Indonesia kepada PLN.
Dalam penjelasan PLN yang disampaikan sebelumnya, terdapat pembangkit yang menjalani pemeliharaan, salah satunya PLTU Jeneponto dengan kapasitas 125 MW.
Bagi GARIS Indonesia, pemeliharaan pembangkit merupakan bagian normal dari pengelolaan sistem kelistrikan. Namun, pemeliharaan seharusnya diikuti dengan perencanaan pasokan dan cadangan daya yang memadai sehingga dampaknya tidak berujung pada pemadaman bergilir yang membebani masyarakat.
Kader GARIS Indonesia, Siddiq, menilai terulangnya persoalan pemadaman menunjukkan perlunya evaluasi serius terhadap sistem perencanaan dan mitigasi PLN.
“Bagi kami, PLN gagal mengambil langkah mitigasi dari kejadian 2023. Kalau persoalan yang sama kembali terjadi pada 2026, berarti ada yang harus dievaluasi secara serius dalam sistem perencanaan dan antisipasi PLN. Jangan sampai pengalaman 2023 hanya menjadi catatan, tetapi tidak melahirkan langkah pencegahan yang nyata.”
Siddiq juga meminta PLN tidak berhenti pada penjelasan teknis setiap kali terjadi pemadaman. Menurutnya, masyarakat berhak mengetahui kondisi sebenarnya dari sistem kelistrikan yang memasok kebutuhan mereka.
“PLN jangan hanya sibuk memberikan penjelasan teknis ketika listrik padam. Yang kami pertanyakan adalah tanggung jawabnya kepada rakyat. Kalau pemadaman terus berulang dan target pemulihan tidak sesuai kenyataan, maka PLN harus berani membuka kondisi sebenarnya kepada publik.”
Menurut GARIS Indonesia, dampak pemadaman listrik tidak hanya dirasakan rumah tangga.
Aktivitas pelaku UMKM dapat terganggu, produktivitas pekerja terhambat, kegiatan belajar masyarakat terdampak, hingga aktivitas pelayanan dan kebutuhan sehari-hari ikut mengalami gangguan.
Karena itu, GARIS Indonesia meminta PLN menjelaskan secara transparan penyebab pemadaman, kondisi pembangkit, ketersediaan cadangan daya, serta langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi.
Selain itu, GARIS Indonesia meminta PLN memberikan kejelasan mengenai hak pelanggan dan mekanisme kompensasi bagi masyarakat yang terdampak, sesuai ketentuan yang berlaku.
TIGA TUNTUTAN GARIS INDONESIA
GARIS Indonesia menyampaikan tiga tuntutan utama kepada PLN:
Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi pembangkit dan jaringan listrik di wilayah sistem Sulselrabar.
Membuka informasi kepada publik mengenai kondisi pembangkit, ketersediaan cadangan daya, penyebab pemadaman, serta langkah pemulihan yang dilakukan.
Memberikan kejelasan mengenai hak pelanggan dan kompensasi bagi masyarakat yang terdampak sesuai peraturan yang berlaku.
JIKA TAK ADA KEJELASAN, GARIS INDONESIA SIAP TURUN KE JALAN
GARIS Indonesia juga memberikan peringatan bahwa pihaknya tidak akan berhenti pada penyampaian kritik apabila pemadaman terus terjadi tanpa penjelasan dan solusi yang dianggap memadai.
Siddiq menegaskan pihaknya memberikan ruang kepada PLN untuk menjelaskan kondisi sistem kelistrikan sekaligus melakukan pembenahan.
“Kami beri kesempatan PLN untuk menjelaskan dan membenahi persoalan ini. Tetapi jika pemadaman terus berulang tanpa solusi yang jelas, GARIS Indonesia tidak akan tinggal diam. Kami akan turun ke jalan dan menyuarakan keresahan rakyat sampai ada langkah konkret dari PLN.”
GARIS Indonesia menegaskan, pemadaman listrik tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa ketika dampaknya terus dirasakan masyarakat.
2023 pernah terjadi. 2026 kembali terulang.
Karena itu, GARIS Indonesia mendesak PLN membuka kondisi sistem kelistrikan Sulselrabar secara transparan kepada publik dan memastikan adanya langkah nyata agar masyarakat tidak terus menjadi pihak yang menanggung dampak dari gangguan pasokan listrik.
Listrik yang andal merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Ketika pemadaman berulang terjadi, publik berhak mendapatkan penjelasan yang jelas, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan.











